BERITACIKARANG.COM, CIKARANG BARAT – Tugu Bambu Runcing yang terletak di Pertigaan Warung Bongkok, Desa Sukadanau, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, akhirnya rampung diperbaiki setelah sempat rusak akibat ditabrak mobil box milik perusahaan logistik beberapa waktu lalu. Meski demikian, tugu yang diduga merupakan Objek Cagar Budaya (ODCB) ini tidak dapat kembali tegak seperti semula karena diduga mengalami kerusakan mendalam pada bagian fondasinya.
Eko Djatmiko, warga setempat sekaligus cucu dari Arnaen, tokoh pejuang kemerdekaan asal Bekasi, mengungkapkan bahwa perbaikan tugu dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat setempat. Proses perbaikan dilakukan setelah Disbudpora berhasil memfasilitasi proses agar pihak perusahaan logistik yang kendaraannya menabrak tugu tersebut dapat memberikan ganti rugi atau melakukan perbaikan.
“Pihak perusahaan logistik akhirnya bersedia memberikan bantuan berupa uang yang kemudian diserahkan ke pemerintah desa. Nah uang tersebut lalu diberikan kepada masyarakat untuk memperbaiki tugu secara gotong royong. Namun, sayangnya dana yang diberikan tidak mencukupi untuk mengembalikan tugu ke kondisi semula,” ujar Eko pada Selasa (26/05).
BACA: Lima Tempat di Kabupaten Bekasi Diusulkan Jadi Cagar Budaya
Eko menambahkan bahwa kerusakan pada tugu cukup parah, terutama pada bagian fondasi yang dibuat menggunakan metode cakar ayam dengan besi kokoh. Sebagian fondasi bahkan telah terkubur akibat peningkatan jalan di sekitar lokasi. “Sebenarnya besinya harus diperbaiki dulu karena bengkok parah. Tapi karena biayanya terbatas, tugu tidak bisa kembali lurus seperti awal,” jelasnya.
Secara historis, Tugu Bambu Runcing Warung Bongkok memiliki nilai sejarah yang tinggi. Tugu ini tercatat dalam buku Seri Lintas Sejarah Angkatan Darat 1977 karya Husein Kamali. Dahulu, tugu ini berdiri tegak di pinggir jalan dan dibuat sebagai monumen peringatan atas peristiwa heroik perjuangan bangsa pada tahun 1945-1946 di daerah tersebut.
Dalam buku tersebut, pembangunan tugu diinisiasi Arnaen pada tahun 1962. Awalnya, tugu tersebut dibuat dengan bahan bambu dan kayu. Karena tidak kuat, maka diperbarui pada tanggal 10 Juli 1970 dengan bahan batu dan besi dengan bentuk bangunan seperti bambu meruncing ke atas yang memiliki panjang dan lebar 292 cm serta tinggi keseluruhan 556 cm yang dibangun secara swadaya.
Namun, seiring dengan perkembangan infrastruktur jalan, posisi tugu kini berada di tengah-tengah pertigaan jalan raya. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran di kalangan masyarakat bahwa tugu tersebut dapat dianggap sebagai hambatan lalu lintas. “Harusnya memang bisa dibikin bundaran seperti Tugu Jogja yang juga berada di tengah-tengah jalan raya,” usul Eko.
Eko dan warga setempat berharap adanya perhatian lebih dari Pemerintah Kabupaten Bekasi maupun pemerintah pusat untuk menata ulang kawasan sekitar Tugu Bambu Runcing Warung Bongkok. Mereka menginginkan kawasan tersebut menjadi bagian dari jalur heritage yang menghubungkan berbagai peninggalan sejarah di Kabupaten Bekasi, seperti Gedung Juang, Klenteng di Pasar Cikarang, hingga kawasan Lemahabang.
“Harapan kami adalah agar tugu ini mendapatkan perhatian lebih. Peninggalan sejarah seperti ini harus dilestarikan layaknya Kota Tua di Jakarta,” tutup Eko. (DIM)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
















