Hoaks dan Provokasi Digital Mengintai, Pemkab Bekasi Ajak Tokoh Wanita Lintas Agama Jadi Pelopor Kerukunan

Pemerintah Kabupaten Bekasi mendorong perempuan lintas agama dan organisasi kemasyarakatan menjadi benteng kerukunan di tengah meningkatnya ancaman hoaks, ujaran kebencian, dan provokasi yang mudah menyebar melalui media sosial.
Pemerintah Kabupaten Bekasi mendorong perempuan lintas agama dan organisasi kemasyarakatan menjadi benteng kerukunan di tengah meningkatnya ancaman hoaks, ujaran kebencian, dan provokasi yang mudah menyebar melalui media sosial.

BERITACIKARANG.COM, CIKARANG UTARA – Pemerintah Kabupaten Bekasi mendorong perempuan lintas agama dan organisasi kemasyarakatan menjadi benteng kerukunan di tengah meningkatnya ancaman hoaks, ujaran kebencian, dan provokasi yang mudah menyebar melalui media sosial.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Bekasi, Robet Suwandi, mengatakan perempuan memiliki posisi strategis dalam menjaga toleransi dan memperkuat moderasi beragama di tengah masyarakat Kabupaten Bekasi yang heterogen.

Bacaan Lainnya

Hal itu disampaikan Robet saat membuka Focus Group Discussion (FGD) bersama tokoh wanita lintas agama dan organisasi kemasyarakatan Kabupaten Bekasi di Cikarang Utara, Rabu (19/08).

FGD tersebut mengusung tema “Perempuan Hebat, Toleransi Kuat, Merawat Kerukunan dalam Bingkai Moderasi Beragama” dengan menghadirkan Anggota Komisi I DPRD Kabupaten Bekasi Ani Rukmini dan Wakil Rektor IV/Dosen UNISMA Bekasi sekaligus Direktur LPPM UNISMA Bekasi, M. Harun Al Rasyid.

Robet menilai keberagaman agama, suku, budaya, latar belakang sosial dan organisasi kemasyarakatan di Kabupaten Bekasi merupakan kekuatan yang harus dirawat bersama.

BACA: Pemuda Lintas Agama Kabupaten Bekasi Berbagi Takjil Wujud Toleransi dan Kebersamaan

Namun, menurutnya, keberagaman juga membutuhkan sikap saling menghormati, memahami dan menghargai, serta komunikasi yang baik agar tidak berkembang menjadi konflik sosial.

“Perempuan hebat adalah perempuan yang mampu menjadi jembatan persaudaraan, bukan sekadar menjadi bagian dari kelompoknya sendiri,” ujar Robet.

Ia mengatakan peran perempuan tidak hanya penting dalam keluarga sebagai pendidik pertama bagi generasi penerus, tetapi juga dalam kegiatan sosial dan membangun komunikasi di tengah masyarakat.

Ancaman terhadap kerukunan, kata Robet, kini semakin kompleks karena perkembangan ruang digital. Informasi yang tidak benar, ujaran kebencian, hoaks, provokasi, framing hingga narasi yang mempertentangkan identitas dapat menyebar dengan cepat melalui media sosial.

Kondisi tersebut dinilai berpotensi memicu keresahan hingga konflik sosial apabila masyarakat tidak memiliki kemampuan menyaring informasi.

Karena itu, Robet mendorong tokoh perempuan menjadi agen literasi sekaligus agen perdamaian dengan memanfaatkan ruang digital untuk menyebarkan informasi yang positif, memperkuat persaudaraan dan mengedukasi masyarakat agar tidak mudah terprovokasi.

“Perempuan juga diharapkan berperan memberikan edukasi kepada generasi muda agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang dapat memecah persatuan dan kesatuan bangsa,” katanya.

Selain literasi digital, Robet menekankan pentingnya pemahaman moderasi beragama. Menurutnya, moderasi beragama bukan berarti mengurangi keyakinan terhadap agama yang dianut, melainkan menjalankan ajaran agama secara adil dan seimbang dengan tetap menghargai perbedaan, menolak kekerasan serta mengedepankan persatuan dan kemanusiaan.

Ia berharap FGD tersebut tidak berhenti sebagai forum diskusi, tetapi menghasilkan langkah nyata di lingkungan masing-masing.

Upaya itu dapat dilakukan melalui penguatan kegiatan lintas agama, peningkatan dialog antarorganisasi, serta pelibatan perempuan dalam penyelesaian berbagai persoalan sosial.

Robet menegaskan, pemerintah tidak dapat menjaga kerukunan seorang diri. Kolaborasi dibutuhkan dengan melibatkan tokoh agama, tokoh perempuan, organisasi kemasyarakatan, akademisi, pemuda dan seluruh masyarakat.

“Mari kita jadikan toleransi bukan hanya sebagai slogan, tetapi sebagai sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari,” pesannya.

Ia mengajak seluruh masyarakat menjadikan Kabupaten Bekasi sebagai rumah bersama, tempat setiap warga dapat beribadah dengan tenang, hidup berdampingan secara damai, menghargai perbedaan dan bersama-sama membangun daerah.

“Melalui kegiatan ini saya berharap lahir perempuan-perempuan hebat yang menjadi pelopor toleransi, penjaga kerukunan dan penggerak moderasi beragama di Kabupaten Bekasi,” tandasnya. (DIM)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

 

Pos terkait