83 Pompa Dikerahkan Atasi Kekeringan, Kabupaten Bekasi Kejar Target Produksi Padi

Penambahan debit air, perbaikan tanggul hingga pompanisasi terus digencarkan oleh Pemerintah Kabupaten Bekasi untuk membantu petani terhindar dari puso.
Penambahan debit air, perbaikan tanggul hingga pompanisasi terus digencarkan oleh Pemerintah Kabupaten Bekasi untuk membantu petani terhindar dari puso.

BERITACIKARANG.COM, CIKARANG PUSAT – Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi mengerahkan 83 unit pompa untuk mengatasi kekeringan yang mengancam lahan pertanian. Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga produktivitas sawah sekaligus mengejar target produksi padi di tengah berkurangnya pasokan air.

Hingga Sabtu 15 Agustus 2026, kekeringan tercatat berdampak terhadap 1.354 hektare lahan pertanian yang tersebar di 15 kecamatan dan 41 desa di Kabupaten Bekasi.

Bacaan Lainnya

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, Eem Embang Lesamanasari, mengatakan berkurangnya debit air untuk pengairan sawah berpotensi menekan produksi padi apabila tidak segera ditangani.

“Di situ pastinya terdampak ada penurunan produksi. Karena sebetulnya dari Kementerian Pertanian kita harus menggenjot luas tambah tanam. Nah, kalau luas tambah tanam terus-menerus harus ditingkatkan, kembali lagi ke kondisi air,” kata Eem saat ditemui di Kantor Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, Rabu (19/08).

Meski demikian, Eem menyebut hingga kini belum terjadi penurunan produksi padi secara signifikan. Dinas Pertanian terus melakukan mitigasi agar kekeringan tidak berkembang menjadi gangguan produksi yang lebih besar.

Salah satu langkah utama yakni mengoperasikan 83 unit pompa melalui Brigade Alsintan. Jumlah tersebut terdiri atas 13 unit pompa berukuran 6 inci dan 70 unit pompa berukuran 3 inci.

BACA: Petani Utara Bekasi Desak Penanganan Darurat Kekeringan

Pompa didistribusikan ke sejumlah wilayah yang rawan kekeringan, di antaranya Pebayuran, Cabangbungin, Kedungwaringin, Tambelang, Sukawangi, Setu, dan Muara Gembong. Peralatan tersebut digunakan untuk menyedot air dari sungai maupun sumber air lainnya guna memenuhi kebutuhan pengairan lahan pertanian.

Dinas Pertanian juga membantu petani memperoleh rekomendasi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi untuk mendukung operasional pompa dan alat mesin pertanian (alsintan). Langkah ini dilakukan karena ketersediaan solar menjadi salah satu kendala dalam pengoperasian mesin pompa.

“Melakukan mitigasi sejak dini pada wilayah rawan kekeringan dan melakukan penanganan jangka pendek sesuai tugas, fungsi, dan anggaran Dinas Pertanian,” ujar Eem.

Selain pompanisasi, penanganan dilakukan melalui perbaikan dan normalisasi saluran irigasi. Dinas Pertanian berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), Perum Jasa Tirta (PJT) II, serta instansi terkait untuk memperlancar distribusi air ke lahan pertanian.

Sejumlah jaringan irigasi yang dinormalisasi antara lain Balong Tuatu sepanjang 7 kilometer, SS Jagawana sepanjang 10 kilometer, serta Kali Butek sepanjang 1,5 kilometer di wilayah Cabangbungin.

Revitalisasi Kali Butek juga dilakukan pada sejumlah titik dengan panjang masing-masing 4 kilometer dan 1,5 kilometer. Sementara di Desa Karangharja, Kecamatan Pebayuran, Dinas Pertanian bersama Direktorat Jenderal Lahan dan Perlindungan Pertanian memberikan dukungan anggaran bagi operator normalisasi jaringan irigasi.

Di lapangan, kondisi lahan turut dipantau bersama petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT). Pendataan dilakukan secara berkala untuk memperbarui informasi mengenai perkembangan dampak kekeringan dan menentukan wilayah yang membutuhkan penanganan.

Berbagai langkah mitigasi tersebut dilakukan untuk menjaga target produksi pangan Kabupaten Bekasi. Dinas Pertanian menargetkan produksi sekitar 503 ton padi per musim.

“Target yang ingin kita capai itu 503 ton per musim. Makanya kita coba melakukan penanggulangan dan membantu petani agar jangan sampai lahan-lahan itu tidak tertanami,” jelas Eem.

Sejumlah wilayah masih menjadi sentra produksi padi Kabupaten Bekasi, seperti Pebayuran, Sukatani, Sukakarya, Sukawangi, dan Muara Gembong. Di Pebayuran, produktivitas padi masih tergolong tinggi dengan hasil sekitar 8 hingga 9 ton.

Dinas Pertanian juga mendorong pemanfaatan lahan potensial agar dapat ditanami hingga tiga kali dalam setahun melalui dukungan pompanisasi. Strategi tersebut diharapkan mampu mempertahankan produktivitas lahan sekaligus mendukung ketahanan dan swasembada pangan daerah.

Selain menjaga produksi, Dinas Pertanian memantau ketersediaan beras melalui pendataan stok di sejumlah penggilingan. Pemantauan dilakukan oleh petugas informasi pasar di tingkat kecamatan untuk memastikan pasokan beras tetap tersedia selama kekeringan berlangsung.

Eem menegaskan, pembaruan data dan penanganan di wilayah terdampak akan terus dilakukan untuk mengantisipasi dampak kekeringan terhadap produksi pangan Kabupaten Bekasi. (DIM)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Pos terkait