BERITACIKARANG.COM, CIKARANG TIMUR – Tradisi babaritan atau hajat bumi yang digelar masyarakat Kampung Ciranggon, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi, menjadi ruang warga untuk memperkuat silaturahmi dan kebersamaan tanpa membedakan status sosial.
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Bekasi Asep Surya Atmaja mengatakan, tradisi yang diwariskan secara turun-temurun tersebut memiliki nilai penting bagi kehidupan sosial masyarakat. Selain menjaga hubungan kekeluargaan, babaritan menjadi pengingat terhadap akar budaya lokal di tengah perkembangan zaman.
Hal itu disampaikan Asep saat menghadiri kegiatan babaritan masyarakat Kampung Ciranggon yang digelar dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Bekasi ke-76 dan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
“Ini merupakan satu tradisi yang tidak bisa dilupakan. Jadi kayak saya, saya jadi dokter di Jakarta, kalau pulang saya ingat adat istiadat keluarga saya,” ujar Asep, Selasa (18/08).
Menurutnya, salah satu nilai utama dalam babaritan terlihat dari tradisi makan bersama. Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi momentum menikmati hidangan, tetapi menjadi sarana warga untuk berkumpul dan berinteraksi tanpa sekat.
“Makan bersama bukan hanya untuk tujuan makan, tapi di sini adalah silaturahim,” katanya.
Asep menilai suasana kebersamaan dalam babaritan juga mencerminkan nilai egaliter. Warga dari berbagai latar belakang dapat duduk dan berkumpul dalam satu ruang tanpa membedakan pekerjaan maupun status sosial.
“Kita berdiri sama tinggi, duduk sama rendah di tempat ini,” ucapnya.
Ia mengapresiasi masyarakat Kampung Ciranggon yang masih mempertahankan tradisi tersebut. Menurut Asep, keberlangsungan babaritan juga dapat menjadi sarana pembelajaran bagi generasi muda agar mengenal dan menghargai budaya yang diwariskan para pendahulu.
“Ini merupakan satu cerminan kepada adik-adik yang nanti dewasa. Ini kan memberi pembelajaran. Nanti selepasnya Mbah Gun, ini tetap harus ada. Jangan pernah ditinggalkan namanya babaritan,” tegasnya.
BACA: Ketersediaan Air Mulai Melimpah, Petani di Utara Kabupaten Bekasi Sumringah
Asep berharap generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut terlibat dalam menjaga tradisi babaritan agar tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Sementara itu, warga Kampung Ciranggon Gunawan mengatakan, hajat bumi merupakan tradisi turun-temurun yang tidak hanya bersifat seremonial. Kegiatan tersebut menjadi bentuk rasa syukur masyarakat sekaligus momentum mempererat hubungan antarwarga.
“Ini memang tradisi turun-temurun yang biasa dilakukan masyarakat. Tujuannya untuk mencari keberkahan dan sebagai bentuk rasa syukur,” ujar Gunawan.
Menurutnya, pemilihan lokasi kegiatan di perempatan Kampung Ciranggon juga berkaitan dengan fungsinya sebagai titik sentral berkumpulnya masyarakat.
“Lokasinya memang di perempatan Kampung Ciranggon karena ini menjadi titik sentral berkumpulnya warga,” katanya.
Gunawan menilai perkembangan wilayah yang semakin pesat tidak seharusnya membuat masyarakat meninggalkan tradisi lokal. Sebaliknya, kearifan lokal perlu dipertahankan sebagai identitas sekaligus pengikat hubungan sosial.
“Jangan sampai karena perkembangan zaman, tradisi seperti ini hilang. Ini bagian dari kearifan lokal yang harus kita jaga bersama,” tuturnya.
Ia mengatakan pelaksanaan hajat bumi yang bertepatan dengan Hari Jadi Kabupaten Bekasi dan HUT ke-81 Kemerdekaan RI juga menjadi momentum bagi warga untuk memperkuat persatuan dan gotong royong.
“Momentum Hari Jadi dan HUT Kemerdekaan ini juga kita jadikan kesempatan untuk berkumpul dan mempererat kebersamaan. Tradisi seperti ini harus terus hidup di tengah masyarakat,” kata Gunawan.
Ia berharap keterlibatan generasi muda dalam pelaksanaan hajat bumi terus ditingkatkan sehingga tradisi tersebut tidak berhenti pada satu generasi.
“Harapannya anak-anak muda juga bisa memahami bahwa ini adalah tradisi dari orang tua kita. Kita jaga bersama supaya tetap ada dan tidak hilang,” pungkasnya. (DIM)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS















