BERITACIKARANG.COM, CIBARUSAH – Di tengah ancaman kekeringan yang setiap tahun melanda sejumlah wilayah di Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi, terdapat sebuah sumur di kawasan Kelenteng Ngo Kok Ong yang disebut tidak pernah mengalami penyusutan debit air, bahkan saat musim kemarau panjang.
Cibarusah sendiri merupakan salah satu kecamatan yang masuk kawasan rawan kekeringan. Sedikitnya terdapat tiga desa yang kerap terdampak kekeringan, yakni Desa Sinarjati, Desa Ridomanah, dan Desa Ridogalih. Kondisi tersebut dipicu minimnya curah hujan, kontur wilayah berbukit, serta jenis tanah berbatu yang membuat daya resap air rendah.
Di tengah kondisi tersebut, Sumur Peng An atau yang dikenal sebagai Sumur Abadi Ibu Ratu Dewi Nyilarasati di bagian belakang Kelenteng Ngo Kok Ong menjadi sumber air yang kerap dimanfaatkan warga sekitar saat kemarau.
BACA: Krisis Air Bersih di Kabupaten Bekasi Meluas, BPBD Salurkan Bantuan ke 20 Titik di Enam Desa
Salah seorang warga setempat, Diwyana Agustin, mengatakan sumur tersebut tidak pernah surut meski kemarau berlangsung dalam waktu lama. “Pada musim kemarau, sumur kelenteng ini sering dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk mengambil air untuk keperluan sehari-hari,” ujarnya.
Ia menambahkan, selain dimanfaatkan sebagai sumber air, sumur tersebut juga dipercaya sebagian masyarakat memiliki khasiat untuk membantu penyembuhan berbagai penyakit. Namun, kepercayaan tersebut merupakan keyakinan yang berkembang di masyarakat. “Iya banyak yang datang sekedar untuk mandi dan berdoa, terutama di malam jum’at kliwon,” kata dia.
Di sekitar sumur tampak sejumlah sesaji yang diletakkan pengurus kelenteng maupun warga yang datang berkunjung. Di dalam ruangan sumur juga terdapat dua setel pakaian tradisional, sepasang sepatu, angklung, ukiran makhluk mitologi Tionghoa Qi Lin, serta altar Abah Saidir.
Selain Sumur Abadi Ibu Ratu Dewi Nyilarasati, Kelenteng Ngo Kok Ong juga memiliki altar penghormatan kepada tokoh yang dikenal dalam tradisi masyarakat Sunda, yakni Eyang Suryakencana dan Prabu Siliwangi. Tempat-tempat tersebut kerap disebut dengan nama ‘paniisan‘ dan menjadi simbol akulturasi di mana budaya leluhur Tionghoa menyatu secara harmonis dengan kearifan lokal. (DIM)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
















