Pejabat Kabupaten Bekasi Ramai-ramai Tabuh Kentongan Bambu

Sejumlah pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bekasi ramai-ramai menabuh kentongan bambu. Kegiatan ini menjadi rangkan digelarnya peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2026 yang di selenggarakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sebagai sistem peringatan dini tradisional dalam menghadapi bencana.
Sejumlah pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bekasi ramai-ramai menabuh kentongan bambu. Kegiatan ini menjadi rangkan digelarnya peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2026 yang di selenggarakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sebagai sistem peringatan dini tradisional dalam menghadapi bencana.

BERITACIKARANG.COM, CIKARANG PUSAT – Sejumlah pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bekasi ramai-ramai menabuh kentongan bambu. Kegiatan ini menjadi rangkan digelarnya peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2026 yang di selenggarakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sebagai sistem peringatan dini tradisional dalam menghadapi bencana.

Tabuh kentongan sendiri memiliki makna penting sebagai simbol sistem peringatan dini (early warning system) tradisional. Ritme suara kentongan yang khas digunakan untuk menyampaikan jenis bahaya tertentu kepada masyarakat. Sebagai contoh, ritme 4-4-4 digunakan untuk peringatan banjir, sedangkan ritme 3-3-3 menandakan adanya kebakaran atau bencana alam lainnya. Dengan cara ini, masyarakat diharapkan dapat melakukan evakuasi mandiri secara cepat dan tepat.

Bacaan Lainnya

Sekretaris Daerah Kabupaten Bekasi, Endin Samsudin menyampaikan bahwa daerahnya memiliki potensi bencana hidrometeorologi yang cukup tinggi, seperti banjir, kekeringan, kebakaran hutan, dan cuaca ekstrem. Oleh karena itu, pemerintah daerah terus berupaya meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana.

BACA: Petani Diimbau Siaga Hadapi Dampak Godzilla El Nino

“Pemerintah Kabupaten Bekasi terus melakukan berbagai langkah, mulai dari mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat hingga pemulihan. Beberapa langkah konkret yang telah dilakukan termasuk penyediaan air bersih, pembangunan sumur bor, sosialisasi hemat air, serta pelatihan kebencanaan kepada masyarakat,” ujar Endin Samsudin.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa keberhasilan penanggulangan bencana tidak hanya bergantung pada pemerintah semata. Peran aktif masyarakat sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang lebih tangguh menghadapi bencana.

“Saya mengimbau masyarakat untuk menghemat air, tidak melakukan pembakaran lahan, menyiapkan cadangan air, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana. Mari kita wujudkan Kabupaten Bekasi yang tangguh, sigap, dan siap menghadapi bencana,” tambahnya.

BACA: Warga Bojongmangu Sulap Bambu Jadi Kerajinan Bernilai Ekonomis

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bekasi, Muchlis, menekankan bahwa peringatan HKB 2026 menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi bencana. Ia juga mengingatkan bahwa karakteristik Kabupaten Bekasi sebagai wilayah perkotaan dan kawasan industri yang padat membuatnya memiliki tingkat kerawanan bencana yang cukup tinggi.

“Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pada tahun 2026 diperkirakan akan terjadi musim kemarau yang lebih kering dan panjang, dengan potensi fenomena El Nino berintensitas lemah hingga moderat,” jelas Muchlis.

Lebih lanjut, BPBD Kabupaten Bekasi berkomitmen untuk terus memperkuat kapasitas daerah dalam menghadapi potensi bencana. Upaya ini dilakukan melalui peningkatan kesiapsiagaan masyarakat, penguatan koordinasi lintas sektor, serta optimalisasi sumber daya kebencanaan. (RIZ)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Pos terkait