BERITACIKARANG.COM, PEBAYURAN – Warga Kampung Kenyam, Desa Karangpatri, Kecamatan Pebayuran, Kabupaten Bekasi, digegerkan dengan penemuan bungkusan kain putih yang disebut menyerupai pocong di depan pintu rumah Abdul Walim, salah seorang tokoh masyarakat setempat, Senin (24/08) pagi.
Benda tersebut pertama kali ditemukan istri Abdul Walim saat menyapu halaman rumah setelah salat Subuh. Bungkusan itu terbuat dari kain berwarna putih dan diikat menggunakan karet berwarna merah.
Selang beberapa waktu kemudian, Abdul Walim kemudian memeriksa bungkusan tersebut. Saat dibuka menggunakan pisau cutter, di dalamnya ditemukan tanah dan bunga dengan beragam jenis serta warna.
Menurut Abdul Walim, saat bungkusan dibuka tercium bau menyengat yang menyerupai bau bangkai. Bau tersebut membuat kepalanya terasa pusing dan pening.
“Waktu saya melakukan pembukaan pocong-pocongan tersebut, kepala saya pusing, pening, karena baunya sangat menyengat. Bau minyak misik bukan, bau minyak mawar bukan, pokoknya baunya bau enggak enak, kayak bangkai,” kata Abdul Walim.
BACA: Isu Teror Pocong Jadi-jadian, MUI Kabupaten Bekasi: Hidupkan Kembali Siskamling
Benda tersebut kemudian disimpan di dalam plastik dan ditutup menggunakan tangkai pohon bidara. Abdul Walim mengatakan berencana membakar benda tersebut pada Senin sore.
Ia menyebut, penemuan bungkusan serupa bukan kali pertama terjadi. Sekitar satu bulan sebelumnya, dirinya juga menemukan benda yang disebutnya sebagai pocong-pocongan. Saat itu, benda tersebut langsung dibungkus plastik dan dibuang ke sungai.
Selain itu, Abdul Walim mengaku beberapa kali menemukan bungbung hideung (kumbang tanduk) berukuran sekitar sebesar ibu jari kaki pada malam hari. Menurutnya, serangga tersebut ditemukan dua hingga tiga ekor dan biasanya muncul setelah pukul 23.00 WIB.
Rangkaian kejadian tersebut, kata Abdul Walim, terjadi di tengah dinamika Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Karangpatri yang tengah berlangsung. Abdul Walim diketahui merupakan tokoh masyarakat sekaligus Ketua Tim Pemenangan salah satu calon kepala desa di wilayah tersebut.
Meski demikian, Abdul Walim tidak menyimpulkan adanya kaitan antara penemuan benda menyeruapi pocong tersebut dengan kontestasi Pilkades. Ia menyerahkan persoalan tersebut kepada Tuhan dan mengaku tidak merasa memiliki persoalan dengan pihak lain.
“Ya wallahu a’lam. Saya tidak merasa mempunyai salah dengan siapa pun. Perasaan hidup saya, tutur sapa bahasa, saya biasa-biasa saja karena memang saya juga orang kampung,” ujarnya.
Walim juga mengimbau masyarakat agar tidak terprovokasi oleh isu-isu yang dapat memperkeruh suasana Pilkades. Ia menegaskan setiap warga memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan politiknya.
“Namanya juga pertarungan politik. Yang penting saya tekankan kepada masyarakat, jangan terprovokasi oleh suara-suara yang menjurus tidak menguntungkan kita semua,” katanya.
Ia berharap Pilkades Karangpatri dapat menjadi momentum memilih pemimpin yang mampu membawa desa ke arah yang lebih baik, termasuk dalam upaya mengurangi kemiskinan, kebodohan, dan kenakalan di masyarakat.
“Silakan saja, sah-sah saja mau milih si A, mau milih si B. Namanya juga pertarungan politik,” tandasnya. (DIM)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS















