BERITACIKARANG.COM, TAMBELANG – Upaya percepatan tanam padi di Kecamatan Tambelang, Kabupaten Bekasi, terkendala minimnya pasokan air. Kerusakan tanggul Saluran Sekunder (SS) Pisang Batu membuat sekitar 700 hektare areal persawahan di tiga desa belum dapat kembali ditanami setelah terdampak kemarau.
Areal persawahan yang terdampak berada di Desa Sukamaju, Sukarapih, dan Sukarahayu. Kondisi tersebut menjadi ironi di tengah dorongan pemerintah untuk mempercepat musim tanam guna menjaga produksi pangan.
Petani Desa Sukarapih, Risam (52), mengatakan kekeringan telah dirasakan selama sekitar tiga bulan terakhir. Kondisi semakin sulit setelah kerusakan tanggul SS Pisang Batu mengurangi pasokan air menuju areal persawahan.
“Sekarang mau tanam lagi. Kalau kata pemerintah ada percepatan tanam, namun enggak ada airnya karena kerusakan tanggul SS Pisang Batu,” kata Risam, Kamis (20/08).
BACA: 83 Pompa Dikerahkan Atasi Kekeringan, Kabupaten Bekasi Kejar Target Produksi Padi
Menurutnya, keterbatasan air juga diperparah oleh pengambilan air untuk kebutuhan PDAM Pasar Tambelang. Kondisi itu membuat petani harus berbagi pasokan air yang semakin terbatas untuk mengairi lahan pertanian di tiga desa.
“Tiga desa, Sukamaju, Sukarapih, Sukarahayu. Kurang lebih 700-an hektare. Enggak ada air, betul,” ujarnya.
Keterbatasan pasokan air juga berdampak terhadap produktivitas panen petani. Risam menyebut hasil panen sebelumnya hanya sekitar tiga ton per hektare, atau jauh di bawah potensi produksi yang menurutnya dapat mencapai enam ton per hektare.
“Panennya kurang maksimal. Aturan-aturan maksimal kan enam ton, palingnya tiga ton,” ungkapnya.
Saat ini, sebagian petani memilih menunda penanaman sambil mencari solusi atas persoalan pengairan. Mereka juga melakukan pembahasan bersama untuk menentukan langkah yang dapat dilakukan agar lahan kembali produktif.
“Petani sementara ini lagi nunggu, lagi berpikir bagaimana caranya ini. Kita lagi rembug-rembug kepada petani, apa solusinya,” kata Risam.
Sebagian petani bahkan mulai mencari sumber pendapatan alternatif, salah satunya dengan memelihara kambing, sembari menunggu ketersediaan air untuk kembali menggarap sawah. (DIM)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS















