BERITACIKARANG.COM, SUKAWANGI – Rumah tua peninggalan era kolonial Belanda di Kampung Pangkalan, Desa Sukamekar, Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi kian lapuk dan terancam hilang.
Bangunan yang kerap dijadikan lokasi swafoto, pemotretan pranikah hingga pengambilan gambar iklan komersial itu kini rusak, kosong tak berpenghuni, dan hanya menyisakan sebagian kecil struktur aslinya.
Rumah yang diperkirakan telah berusia lebih dari satu abad itu dulunya memiliki luas sekitar 500 meter persegi. Namun, sebagian besar bangunan telah mengalami perubahan maupun kerusakan seiring berjalannya waktu.
Meski demikian, sejumlah elemen asli masih dapat ditemukan, seperti tiang dan pintu berbahan kayu nangka utuh, kokot atau pengunci pintu kuno, teralis besi bulat, hingga anyaman bilik bambu yang masih bertahan.
BACA: Pemakaman Belanda di Cibarusah Diusulkan Jadi Cagar Budaya
Rohayati (61), cucu pemilik rumah, mengatakan bangunan itu merupakan peninggalan Engkong Siran, seorang tuan tanah yang menguasai sekitar 1.200 hektare lahan pertanian di wilayah Sukawangi pada masa lampau.
“Rumah ini banyak sejarahnya. Dulu menjadi tempat berkumpul keluarga besar, terutama saat musim panen. Sekarang sudah kosong karena semua anak cucu sudah punya rumah masing-masing,” kata Rohayati.
Menurut dia, rumah tersebut mulai tidak terawat setelah ayahnya, Mihad, yang selama ini merawat bangunan itu, meninggal dunia sekitar tahun 2024. Sejak itu rumah dibiarkan kosong sehingga kondisinya semakin memprihatinkan.
Selain menjadi kediaman keluarga besar, rumah tersebut juga menyimpan jejak sejarah masa kolonial. Berdasarkan cerita keluarga, di bagian dapur pernah terdapat bunker rahasia yang digunakan untuk berlindung dari kejaran tentara Belanda sekaligus menyimpan harta benda.
Bunker itu kemudian ditutup sekitar tahun 2007 karena alasan keamanan.
Rohayati juga menuturkan, Engkong Siran dikenal sebagai tokoh yang mendukung perjuangan kemerdekaan sehingga pernah ditangkap dan disiksa oleh tentara Belanda. “Menurut cerita orang tua, Engkong pernah ditangkap dan disiksa tentara Belanda karena mendukung perjuangan kemerdekaan,” ujarnya.
Sejumlah benda peninggalan bernilai sejarah yang dahulu menghiasi rumah tersebut kini sebagian besar telah hilang. Hanya tersisa beberapa barang lama seperti tongkat kayu peninggalan keluarga, kendi tanah, tempayan, dan lemari piring kuno.
Meski kondisinya rusak, rumah tua itu masih menarik perhatian masyarakat. Keaslian arsitekturnya membuat bangunan tersebut beberapa kali dijadikan lokasi swafoto, pemotretan prewedding, hingga pengambilan gambar untuk iklan komersial. (DIM)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
















