BERITACIKARANG.COM, CIKARANG PUSAT – Warga Kampung Tegal Danas, Desa Hegarmukti, Kecamatan Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi, memprotes polusi debu yang diduga berasal dari aktivitas truk molen pengangkut beton cor milik sejumlah perusahaan batching plant. Keluhan tersebut telah berlangsung lama dan dinilai semakin parah pada musim kemarau.
Sebagai bentuk protes, warga pun memasang spanduk bertuliskan ‘Tegal Danas Darurat Debu’ di tepi jalan menuju Kawasan Industri GIIC Deltamas dan Komplek Perkantoran Pemkab Bekasi. Mereka mendesak pihak terkait segera mengambil langkah untuk mengatasi pencemaran debu yang dinilai mengganggu kesehatan dan aktivitas masyarakat.
Salah seorang warga, Yohana (39), mengatakan debu diduga berasal dari material beton yang tercecer dari truk molen, kemudian mengering di badan jalan dan hancur saat terlindas kendaraan lain hingga beterbangan.
“Kondisi kayak gini udah lama, Bang. Bahkan waktu dulu habis diaspal tahun 2019 itu bersihnya cuma sebulanan. Kalau di perempatan Tegal Danas mungkin ada yang nyiram katanya, tetapi kalau di sini ya tidak ada,” kata Yohana, Senin (27/07) sore.
BACA: Hati-Hati Lewati Jalan Raya Tegal Danas, Penuh Debu dan Siksa Pemotor
Menurutnya, polusi debu tidak hanya mengotori lingkungan, tetapi juga berdampak pada kesehatan warga, seperti memicu batuk dan gangguan pernapasan. Kondisi itu juga merugikan pedagang seperti dirinya karena barang dagangan lebih cepat kotor dan membuat pembeli merasa kurang nyaman.
“Harapan kami ada kepedulian dari pihak-pihak terkait, minimal mau membersihkan tumpahan material truk molen di jalan, apalagi di musim kemarau seperti sekarang,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan warga lainnya, Tarman. Selain menimbulkan polusi debu, menurutnya material beton yang mengering di permukaan jalan juga membahayakan pengguna jalan, khususnya pengendara sepeda motor. “Di perempatan tegal danas banyak yang jatuh. Biasanya karena terpeleset atau saat menghindari ceceran beton,” katanya.
Tarman juga menyebut jumlah batching plant di sekitar wilayah tersebut bertambah dalam beberapa waktu terakhir. “Dulu cuma ada empat batching plant. Tiga di Kalimalang, perbatasan Cibatu dan Jayamukti, sama satu lagi di jalan arah Bugel Salam. Sekarang nambah lagi yang warna mobilnya berwarna hijau di Kalimalang. Itu masih baru sekitar satu atau dua bulanan,” ucapnya.
Warga berharap peremrintah lebih meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas batching plant serta mewajibkan perusahaan bertanggung jawab membersihkan material yang tercecer di jalan hingga melakukan penyiraman secara berkala untuk mengurangi polusi debu selama musim kemarau. (DIM)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
















