MUI Kabupaten Bekasi Awasi Abah Setu Usai Kasus Dugaan Penghinaan Nabi

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bekasi
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bekasi

BERITACIKARANG.COM, CIKARANG UTARA — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bekasi memastikan akan melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap Asep Setiawan alias Abah Setu pasca kasus dugaan penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW.

Ketua MUI Kabupaten Bekasi, Mahmud, mengatakan pembinaan akan dilakukan terhadap Abah Setu dan majelis taklim yang dipimpinnya untuk mencegah terulangnya persoalan serupa.

Bacaan Lainnya

“Kami pastikan langkah pengawasan dan pembinaan akan kami lakukan. Beliau bersedia majelisnya ditutup namun kami pembinaan tetap akan kami lakukan,” kata Mahmud.

Mahmud menyebut Abah Setu dikenal dengan ungkapan-ungkapan yang nyeleneh. Namun, dia menegaskan pernyataan yang disampaikan dalam kasus ini tidak dapat dibenarkan.

“Yang menjadi soal itu karena beliau melihat syareat dari kacamata hakekat, ya jelas tidak ketemu. Dan persoalan lainnya lagi karena itu kemudian diunggah menjadi konsumsi publik,” ujarnya.

Meski demikian, Mahmud mengapresiasi sikap Abah Setu yang mengakui kesalahan dan menyampaikan permohonan maaf kepada para ulama serta masyarakat.

Dia juga mengapresiasi kesediaan Abah Setu menutup majelis taklim yang dipimpinnya. Menurutnya, perbedaan pemahaman tidak boleh menjadi alasan untuk membenci seseorang yang telah mengakui kekeliruannya.

“Kami sampaikan apresiasi saat beliau legowo mengakui kekeliruan dan sampai bersedia menutup majelisnya. Bagi saya, memang kita tidak setuju dengan pemahamannya tapi jangan membenci orangnya, apalagi beliau sudah legowo dan mengaku kesalahannya,” kata Mahmud.

BACA: Video Diduga Hina Nabi Viral, Abah Setu Minta Maaf di Hadapan Warga

Selain memastikan pembinaan, MUI Kabupaten Bekasi mengapresiasi langkah cepat Kepolisian Resor Metro Bekasi dalam memediasi persoalan tersebut.

Mahmud mengatakan, persoalan yang berkaitan dengan agama merupakan isu sensitif yang dapat memicu kemarahan masyarakat apabila tidak ditangani dengan cepat.

“Saya secara khusus juga memberikan apresiasi kepada Pak Kapolres yang baru beberapa hari menjabat langsung cepat memediasi ini. Karena kalau tidak dimediasi kepolisian agak sulit,” ujarnya.

Menurut Mahmud, reaksi masyarakat terhadap dugaan penistaan agama dapat muncul dari berbagai kalangan. Karena itu, mediasi dinilai menjadi langkah penting untuk mencegah persoalan berkembang menjadi konflik.

“Jadi jangankan orang ahli agama, tapi orang yang bahkan tidak rajin ibadah atau mungkin yang suka mabuk ketika menyangkut penistaan agama, turut bereaksi, marah. Maka dengan ditangani secara cepat saya menjadi kunci. Maka saya apresiasi itu,” ucapnya.

Abah Setu Sampaikan Permohonan Maaf

Sebelumnya, warga menggeruduk Majelis Dzikir Nurul Hikam Bekasi pimpinan Asep Setiawan alias Abah Setu di Desa Telajung, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, Senin (07/09) malam.

Penggerudukan tersebut dipicu beredarnya video siaran langsung Abah Setu di salah satu platform media sosial yang memuat ungkapan terkait Nabi Muhammad SAW. Ungkapan itu dinilai menyinggung dan mendiskreditkan Nabi Muhammad sehingga memicu reaksi masyarakat.

Abah Setu kemudian menyampaikan permohonan maaf kepada umat Islam setelah mengikuti mediasi bersama sejumlah pemuka agama di Mapolres Metro Bekasi, Cikarang Utara, Kamis (10/09) kemarin.

“Saya Asep Setiawan alias Abah Setu, sehubungan dengan beredar video yang telah menyinggung kaum muslimin dan muslimat yang telah menghina Nabi Muhammad SAW dengan ini saya mengakui dan menyatakan salah atas kekeliruan tersebut. Bahwa video tersebut menyinggung dan menghina kaum muslimin, oleh karenanya meminta maaf sebesar-besarnya,” kata Abah Setu saat membacakan surat pernyataan di hadapan masyarakat dan para tokoh agama.(DIM)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Pos terkait