Pelaku Usaha di Jababeka Keluhkan Pemadaman Listrik, Pendapatan Restoran Anjlok Puluhan Juta Rupiah

Kebijakan pelayanan PLN (Persero) mendapat sorotan dari kalangan pelaku usaha di kawasan Jababeka, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi. Minimnya sosialisasi terkait pemadaman listrik dinilai berdampak langsung terhadap aktivitas bisnis, terutama sektor kuliner dan hiburan yang sangat bergantung pada pasokan listrik yang stabil.
Kebijakan pelayanan PLN (Persero) mendapat sorotan dari kalangan pelaku usaha di kawasan Jababeka, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi. Minimnya sosialisasi terkait pemadaman listrik dinilai berdampak langsung terhadap aktivitas bisnis, terutama sektor kuliner dan hiburan yang sangat bergantung pada pasokan listrik yang stabil.

BERITACIKARANG.COM, CIKARANG UTARA – Kebijakan pelayanan PLN (Persero) mendapat sorotan dari kalangan pelaku usaha di kawasan Jababeka, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi. Minimnya sosialisasi terkait pemadaman listrik dinilai berdampak langsung terhadap aktivitas bisnis, terutama sektor kuliner dan hiburan yang sangat bergantung pada pasokan listrik yang stabil.

Salah satu keluhan datang dari Indra Senjayani, salah seorang pengelola restoran di Jalan Dokter Satrio, Desa Simpangan, Kecamatan Cikarang Utara. Ia mengaku mengalami kerugian cukup besar akibat dua kali pemadaman listrik yang terjadi dalam waktu berdekatan menjelang akhir pekan lalu.

Bacaan Lainnya

Pemadaman pertama terjadi pada Kamis (18/06) sekitar pukul 11.00 hingga 14.00 WIB. Kondisi tersebut membuat berbagai aktivitas operasional restoran terhenti.

“Dampaknya cukup besar. Kegiatan persiapan operasional seperti membersihkan area, mengepel, persiapan dapur, hingga aktivitas coffee shop tidak bisa berjalan. Bahkan sudah ada pengunjung yang datang, tetapi akhirnya memilih pulang karena listrik padam,” ujar Indra, Senin (22/06).

BACA: Kabel Listrik Dibiarkan Menjuntai di Sukadami, PLN Cikarang Kurang Sat-set

Menurutnya, kerugian terbesar terjadi saat pemadaman kedua pada Jumat (19/06) malam, tepat ketika restoran memasuki jam sibuk atau prime time. Listrik padam sejak pukul 17.30 WIB hingga sekitar pukul 21.30 WIB.

Padahal saat itu restoran telah dipenuhi sekitar 50 pengunjung yang datang untuk menghadiri acara hiburan musik. Suasana mendadak berubah ketika seluruh area restoran gelap gulita.

“Sebagian pengunjung memilih pulang, sebagian lagi menunggu. Harusnya acara mulai pukul 20.00 WIB, tetapi terpaksa mundur. Pengunjung dan bintang tamu akhirnya menunggu di area parkir karena kondisi di dalam ruangan gelap dan sangat gerah,” katanya.

Akibat pemadaman tersebut, acara baru bisa dimulai sekitar pukul 22.00 WIB. Waktu pelaksanaan yang semakin sempit membuat jumlah pengunjung berkurang drastis, sementara biaya penyelenggaraan acara tetap harus dibayarkan penuh.

“Biasanya pendapatan hari Jumat bisa mencapai sekitar Rp18 juta, tetapi saat itu hanya sekitar Rp5 juta. Sementara biaya untuk bintang tamu tetap harus dibayar penuh. Karena listrik baru menyala pukul 22.00 WIB, banyak pengunjung yang sudah terlanjur pulang,” ungkapnya.

Indra memperkirakan total kerugian yang dialami selama dua hari pemadaman tersebut mencapai lebih dari Rp20 juta.

Selain kerugian finansial, ia juga menyoroti minimnya komunikasi dan sosialisasi dari PLN terkait rencana pemadaman listrik. Menurutnya, pelaku usaha membutuhkan informasi lebih awal agar dapat menyiapkan langkah mitigasi, seperti penyediaan genset atau penyesuaian jadwal operasional.

“Dulu biasanya ada pemberitahuan jika akan ada pemadaman. Sekarang tidak ada informasi sama sekali. Padahal kalau diberi tahu lebih awal, kami bisa menyiapkan langkah antisipasi,” ujarnya.

BACA: Lima Penarik Sound Sisingaan Tersengat Listrik di Cikarang Utara, Tiga Orang Meninggal Dunia

Indra mengaku sempat menghubungi layanan PLN 123 setelah listrik padam dengan nomor pengaduan G5326061921696. Namun, berdasarkan informasi yang diterimanya, lokasi restorannya disebut tidak termasuk dalam wilayah yang masuk jadwal pemadaman.

“Kami sempat melapor ke PLN. Tapi informasinya wilayah restoran kami justru tidak masuk area pemadaman. Itu yang membuat kami semakin bingung dan merasa dirugikan,” tuturnya.

Ia berharap PLN dapat memperbaiki sistem komunikasi dan pelayanan kepada pelanggan, khususnya para pelaku usaha yang setiap hari bergantung pada keandalan pasokan listrik.

“Pelaku usaha dan PLN seharusnya bisa menjadi mitra yang saling mendukung. Kalau memang akan ada pemadaman listrik, setidaknya ada pemberitahuan agar kami bisa melakukan mitigasi. Apalagi kami rutin menggelar berbagai kegiatan dan acara setiap akhir pekan,” tandasnya. (DIM)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Pos terkait