Kecanduan Hp, 2 Remaja di Kabupaten Bekasi Jadi Pasien Gangguan Jiwa

BERITACIKARANG.COM, TAMBUN SELATAN – Perkembangan sosial media dan penggunaan handphonesecara berlebihan mulai berdampak nyata bagi masyarakat. Di Kabupaten Bekasi, dua remaja terpaksa dirawat di panti rehabilitasi bagi pasien gangguan jiwa karena ketergantungan menggunakan telepon seluler.

Ketua Yayasan Al Fajar Berseri, Marsan mengatakan kedua remaja itu sudah sekitar satu tahun dirawat di panti rehabilitasi penderita gangguan jiwa yang dikelolanya di Tambun Selatan. Mereka yakni NV (17) asal Cikarang Selatan dan TY (17) asal Cibitung.

Dalam kesehariannya, kata Marsan, mereka hanya berdiam diri dan sesekali berinteraksi. Namun, kedua pasien itu seketika bereaksi ketika melihat handphone.

“Jadi cuma biasa saja, diam saja. Makan juga bisa. Cuma kalau ada hape nih, langsung direbut, diambil dimainin. Misal ada hape di-charge, langsung direbut. Ini karena mereka sudah terlalu ketergantungan dengan hape dan game,” kata Masran, Rabu (16/10).

Berdasarkan informasi dari keluarga keduanya, mereka sudah sangat berlebihan menggunakan handphone. Bahkan, mereka mengoperasikan gawai dari sejak bangun tidur hingga malam, menjelang tidur kembali. Ketergantungan itu bahkan mengganggu kehidupan nyata mereka. Tidak jarang mereka pun bolos sekolah.

“Bahkan buat makan pun mereka kadang lupa. Lebih parah lagi, kalau dilarang mereka mulai emosional. Bukan cuma marah tapi sampai melawan orang tuanya. Ada beberapa kasus, termasuk yang dua ini,” ucap dia.

NV dan TY, lanjut Marsan bukan pasien gangguan kejiwaan pertama yang dirawat karena penggunaan handphone yang berlebihan. Sebelumnya, ada satu pasien lain asal Medan yang mengalami hal serupa. “Dia namanya WH. Katanya sudah ke beberapa tempat sampai akhirnya ke kami. Empat bulan di sini, sekarang sudah pulang,” ucap dia.

Diungkapkan Marsan, penggunaan handphone seharusnya sudah mulai dikendalikan. Orang tua berperan besar mengatasi ini sejak dini. “Orang tua harus paham, di dalam hape itu kan mengandung magnet yang bisa merusak otak. Itu mengapa ada dua orang yang tinggal di sini sekarang,” kata dia. (BC)