SKG Tegal Gede, Penopang Transisi Energi Hijau di Kawasan Industri

Petugas Stasiun Kompresor Gas (SKG) Tegal Gede memastikan keandalan operasional dan kelancaran pasokan gas bumi untuk memenuhi kebutuhan kawasan industri, pembangkit listrik, hingga jaringan gas rumah tangga.
Petugas Stasiun Kompresor Gas (SKG) Tegal Gede memastikan keandalan operasional dan kelancaran pasokan gas bumi untuk memenuhi kebutuhan kawasan industri, pembangkit listrik, hingga jaringan gas rumah tangga.

BERITACIKARANG.COM, CIKARANG SELATAN – Di tengah tuntutan industri untuk menekan emisi karbon sekaligus menjaga produktivitas, gas bumi memiliki peran strategis sebagai energi transisi menuju ekonomi hijau. Sumber energi ini menawarkan alternatif yang lebih bersih dibandingkan batu bara dan minyak bumi, sekaligus menjadi salah satu penopang upaya mewujudkan swasembada energi nasional.

Di Kabupaten Bekasi, peran tersebut salah satunya dijalankan melalui Stasiun Kompresor Gas (SKG) Tegal Gede Cikarang. Fasilitas milik PT Pertamina Gas (Pertagas) Operation West Java Area (WJA) ini menjadi bagian penting dari infrastruktur yang memastikan pasokan gas bumi tetap mengalir ke kawasan industri, pembangkit listrik, hingga jaringan gas rumah tangga.

Keberadaan SKG Tegal Gede bukan sekadar menjaga distribusi energi. Di tengah transformasi sektor industri menuju praktik produksi yang lebih ramah lingkungan, fasilitas ini turut menopang ketersediaan energi alternatif yang dibutuhkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar beremisi lebih tinggi.

BACA: Jababeka dan Pertamina Kerjasama Wujudkan Green Industrial Estate

Gas bumi dinilai memiliki posisi penting dalam masa transisi energi karena menghasilkan emisi karbon dioksida lebih rendah dibandingkan batu bara dan minyak bumi dalam proses pembakaran. Selain itu, penggunaannya menghasilkan sulfur dioksida dan partikulat dalam jumlah lebih rendah.

Karakteristik tersebut menjadikan gas bumi sebagai salah satu pilihan energi bagi industri yang ingin meningkatkan efisiensi sekaligus mengurangi dampak lingkungan dari kegiatan produksinya.

Infrastruktur Energi untuk Industri Hijau

SKG Tegal Gede mengelola dan memantau bagian dari jaringan pipa transmisi induk Pertagas WJA sepanjang kurang lebih 606 kilometer yang membentang dari Cirebon hingga Cilegon, Banten.

Infrastruktur yang mulai dibangun sejak 1975 ini terus dikembangkan untuk mengintegrasikan pasokan gas dari berbagai sumber hulu. Tujuannya memastikan ketersediaan energi bagi pelanggan sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Head of District Tegal Gede, Fari Akhdiar Rachmad, menjelaskan pasokan gas yang melintasi fasilitas tersebut berasal dari sejumlah sumber strategis, termasuk sumur gas milik Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), baik offshore maupun onshore, di sekitar Subang dan wilayah sekitarnya.

Dari Tegal Gede, gas kemudian diatur dan disalurkan kepada pelanggan di kawasan Cikarang dan Bekasi, serta diteruskan menuju Stasiun Kompresor Gas Bitung sebagai bagian dari sistem transmisi yang saling terhubung.

Fasilitas ini memiliki empat unit kompresor dengan kapasitas masing-masing 70 MMSCFD. Dengan dukungan tersebut, jaringan di wilayah Tegal Gede dirancang mampu beroperasi hingga sekitar 90 persen dari kapasitas desain pipa sebesar 350 MMSCFD.

“Saat ini volume gas yang melintasi SKG Tegal Gede berkisar 80 MMSCFD. Kapasitas pipa totalnya didesain hingga 350 MMSCFD, sehingga dengan unit kompresor yang ada, kami siap mengoperasikan jaringan hingga 90 persen dari total kapasitas pipa tersebut,” ujar Fari.

Sebagian gas yang melintasi fasilitas tersebut disalurkan untuk memenuhi kebutuhan energi sejumlah sektor strategis. Mulai dari pembangkit listrik PT PLN (Persero) dan Cikarang Listrindo, industri pupuk PT Pupuk Kujang, pabrik kertas Fajar Surya Wisesa, produsen baja Tata Metal Lestari, hingga jaringan gas rumah tangga di Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, dan Depok.

“Stasiun kompresor berfungsi menjaga agar gas tetap memiliki energi yang cukup untuk melaju hingga ratusan kilometer ke pelanggan agar penyalurannya tidak terganggu,” jelasnya.

BACA: Pertamina EP Field Tambun Kembangkan Absorben Ramah Lingkungan dari Kapuk

Bagi kawasan industri Cikarang dan Karawang yang menjadi salah satu pusat manufaktur nasional, keberadaan jaringan gas ini memiliki arti penting. Pasokan energi yang stabil menjadi salah satu faktor penentu keberlangsungan produksi, pengembangan kapasitas usaha, hingga perencanaan investasi industri.

Di sisi lain, pemanfaatan gas bumi juga membuka peluang bagi pelaku industri untuk melakukan diversifikasi energi secara bertahap. Perusahaan dapat mengurangi penggunaan bahan bakar dengan intensitas emisi lebih tinggi tanpa harus mengabaikan kebutuhan energi dalam jumlah besar dan berkelanjutan.

Petugas SKG Tegal Gede melakukan pengecekan rutin di metering station untuk memastikan akurasi pengukuran volume gas bumi yang disalurkan. Langkah ini dilakukan agar jumlah gas yang dikirim sesuai dengan volume yang diterima pelanggan.
Petugas SKG Tegal Gede melakukan pengecekan rutin di metering station untuk memastikan akurasi pengukuran volume gas bumi yang disalurkan. Langkah ini dilakukan agar jumlah gas yang dikirim sesuai dengan volume yang diterima pelanggan.

Menjaga Keandalan Pasokan Energi

Peran gas bumi dalam mendukung transisi energi tidak dapat dilepaskan dari keandalan infrastruktur penyalurannya. Pasokan yang lebih bersih tidak akan memberikan manfaat optimal apabila distribusinya terganggu.

Operation Distrik Tegal Gede, Rizqi Fahkrul, mengatakan keandalan penyaluran gas ditopang sinergi tim operasional dan teknis di lapangan. Mereka bertugas menjaga kestabilan tekanan gas dari jaringan transmisi bertekanan tinggi hingga sampai ke titik penerima di wilayah ujung barat Pulau Jawa.

Dukungan teknologi gas turbine compressor serta kesiapan tim Operation dan Maintenance menjadi bagian penting dalam menjaga operasional fasilitas.

Untuk memastikan distribusi berlangsung tanpa henti, Pertagas WJA menerapkan sistem kerja tiga sif yang memungkinkan pengawasan selama 24 jam. Perusahaan juga menyiapkan skema pemeliharaan cadangan N+3, mencakup perencanaan kesiapan operasional, material, suku cadang, serta personel hingga tiga tahun ke depan.

Selain itu, terdapat Emergency Response Plan (ERP) Level 1 hingga 3 yang dapat diaktifkan sewaktu-waktu untuk menghadapi kondisi darurat.

Pengawasan terhadap jalur pipa juga dilakukan melalui koordinasi dengan pihak ketiga yang beraktivitas di sekitar jaringan transmisi. Langkah ini diperlukan untuk mencegah kerusakan infrastruktur maupun potensi kebocoran akibat kegiatan penggalian.

Menurut Rizqi, seluruh upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen menjaga keberlanjutan penyaluran energi bagi pelanggan, khususnya sektor industri yang membutuhkan pasokan gas secara konsisten.

Menuju Ekonomi Hijau dan Kemandirian Energi

Selain keandalan operasional, aspek Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) menjadi perhatian utama Pertagas WJA dalam menjalankan kegiatan usahanya.

Hingga cut-off 30 Juni 2026, perusahaan mencatatkan 28 juta jam kerja selamat tanpa kecelakaan kerja yang menonjol atau zero accident. Komitmen terhadap lingkungan juga tercermin dari capaian penghargaan PROPER Emas dan PROPER Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Petugas SKG Tegal Gede secara rutin melakukan pengecekan kompresor untuk memastikan tekanan gas tetap terjaga sehingga penyaluran gas bumi ke konsumen, khususnya kawasan industri, dapat berlangsung lancar dan berkelanjutan.
Petugas SKG Tegal Gede secara rutin melakukan pengecekan kompresor untuk memastikan tekanan gas tetap terjaga sehingga penyaluran gas bumi ke konsumen, khususnya kawasan industri, dapat berlangsung lancar dan berkelanjutan.

Pencapaian tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan menjaga keseimbangan antara operasional infrastruktur energi, keselamatan pekerja, dan kelestarian lingkungan.

Lebih jauh, pemanfaatan gas bumi memiliki keterkaitan dengan agenda ekonomi hijau dan swasembada energi nasional. Optimalisasi sumber gas domestik melalui jaringan pipa dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak impor, terutama diesel yang masih digunakan pada sejumlah pembangkit listrik.

Pada sektor ketenagalistrikan, pemanfaatan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) juga memungkinkan panas sisa dari proses pembakaran gas digunakan kembali untuk menggerakkan turbin uap. Sistem ini meningkatkan efisiensi pemanfaatan energi dibandingkan pembangkit yang tidak memanfaatkan panas buang.

Dengan demikian, gas bumi dapat menjadi salah satu jembatan dalam proses peralihan menuju sistem energi yang lebih rendah emisi, sembari mendukung kebutuhan listrik dan aktivitas industri yang terus berkembang.

Hanya saja, peran gas bumi sebagai energi transisi tetap perlu ditempatkan dalam kerangka pengembangan energi bersih jangka panjang. Optimalisasi pasokan domestik, efisiensi pemanfaatan, serta pengendalian emisi sepanjang rantai produksi dan distribusi menjadi faktor penting agar manfaat lingkungannya dapat tercapai.

Fari menegaskan, keberadaan SKG Tegal Gede merupakan bagian dari tanggung jawab perusahaan dalam menjaga pasokan energi yang aman dan berkelanjutan bagi sektor industri.

“Kita terus bersinergi, memperkokoh dan memastikan semua prosedur, karena posisinya sebagai tulang punggung penyaluran energi bersih dan aman guna mendorong roda perekonomian industri di wilayah Jawa Bagian Barat,” katanya.

Di tengah tuntutan industri untuk tumbuh lebih kompetitif sekaligus memperhatikan lingkungan, infrastruktur gas bumi seperti SKG Tegal Gede menempati posisi strategis. Bukan hanya memastikan mesin-mesin industri tetap beroperasi, tetapi juga menyediakan salah satu alternatif energi untuk mengantarkan sektor manufaktur Indonesia menuju ekonomi yang lebih hijau dan mandiri. (DIM)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Pos terkait