BERITACIKARANG.COM, SUKATANI – Tidak pernah terbayangkan dalam benak Rindy Natasha (22), hidupnya akan berubah hanya dalam hitungan detik. Perempuan muda asal Desa Sukamulya, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Bekasi, itu harus kehilangan tiga jari tangan kanannya akibat kecelakaan kerja yang dialaminya pada 7 Agustus 2026 silam.
Jari telunjuk, tengah, dan manis yang selama ini menjadi bagian penting dalam aktivitas sehari-hari kini tak lagi dimilikinya. Sesuatu yang mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang, tetapi bagi Rindy, kehilangan tersebut mengubah banyak hal dalam kehidupannya.
Rindy merupakan lulusan SMA Negeri 1 Sukatani. Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atas, ia langsung mencari pekerjaan. Kesempatan bekerja di sebuah perusahaan manufaktur komponen otomotif pun datang melalui rekomendasi saudaranya yang lebih dahulu bekerja di sana.
BACA: Buruh di Kabupaten Bekasi Kehilangan Tangan Usai Alami Kecelakaan Kerja dan Tak Dapat Jaminan
Sudah hampir dua tahun ia menjalani pekerjaan tersebut. Bagi Rindy, saat itu yang terpenting adalah bisa bekerja dan memiliki penghasilan sendiri. Apalagi, mencari pekerjaan bukan perkara mudah bagi seorang lulusan baru.
Namun, rutinitas yang selama ini dijalaninya berubah ketika kecelakaan terjadi pada dini hari.
Saat itu, Rindy sedang menjalani pergantian sif dan bekerja seperti biasanya. Sekitar pukul 01.00 WIB, ia membersihkan bagian mesin injeksi yang mengalami kebocoran. Dalam proses tersebut, tangannya masuk ke area mesin sebelum nozzle bergerak dan menjepitnya.
“Saya belum sempat menarik tangan, nozzle-nya sudah maju. Saya sempat manggil-manggil leader,” kenangnya, Jum’at (06/11).
Rindy mengatakan, tangannya terjebak di mesin selama hampir 30 menit. Rasa sakit yang luar biasa membuatnya hanya bisa berteriak meminta pertolongan. Sejumlah pekerja, termasuk mekanik, kemudian berupaya membantu melepaskan tangannya.
Peristiwa itu menjadi pengalaman yang tidak pernah ingin diingatnya kembali.
Setelah berhasil dikeluarkan dari mesin, Rindy dibawa ke rumah sakit. Kondisi tangannya mengalami kerusakan serius. Ia harus menjalani operasi untuk mendapatkan penanganan medis.
Awalnya, dokter berupaya mempertahankan kondisi jari-jarinya melalui tindakan operasi pemasangan pen. Namun, setelah menjalani perawatan sekitar satu minggu, kondisi jaringan pada tiga jarinya ternyata tidak menunjukkan perkembangan yang diharapkan.
Dokter kemudian menyampaikan bahwa amputasi menjadi satu-satunya jalan untuk mencegah kerusakan yang lebih luas.
Mendengar keputusan tersebut, Rindy mengaku sempat diliputi kesedihan. Ia tidak pernah membayangkan harus kehilangan bagian tubuh yang selama ini digunakan untuk melakukan berbagai aktivitas.
“Saya sebenarnya tidak mau diamputasi. Saya tidak mau kehilangan jari. Tapi mau bagaimana lagi, kata dokter memang itu jalan satu-satunya,” tuturnya.
Operasi amputasi akhirnya dijalani pada Senin, sekitar sepekan setelah kejadian. Ketika sadar dari pengaruh obat bius, Rindy baru mengetahui bahwa tiga jarinya sudah tidak ada.
Sejak saat itu, ia harus mulai membiasakan diri menjalani kehidupan dengan kondisi tangan yang berbeda.
Tak Bisa Menulis dan Naik Motor
Perubahan paling terasa justru muncul ketika Rindy kembali menjalani aktivitas sehari-hari.
Sebelum kecelakaan, ia terbiasa mengendarai sepeda motor sendiri untuk berangkat dan pulang bekerja. Menulis maupun melakukan pekerjaan sederhana juga bisa dilakukannya tanpa kesulitan.
Kini, hal-hal tersebut tidak lagi mudah dilakukan.
Ia belum bisa kembali mengendarai sepeda motor seperti sebelumnya. Aktivitas menulis pun menjadi tantangan tersendiri karena tiga jari tangan kanannya telah diamputasi.
Bukan hanya keterbatasan fisik, Rindy juga harus menghadapi perubahan kepercayaan diri. Ada perasaan minder dan trauma yang sesekali muncul usai kejadian tersebut.
“Sudah pasti jadi kurang percaya diri. Ada trauma juga,” ungkapnya.
Meski begitu, Rindy bersyukur masih mendapatkan dukungan dari orang-orang di sekitarnya. Teman-teman yang mengetahui kejadian tersebut berusaha memahami kondisinya.
Dukungan itu sedikit banyak membantu Rindy Natasha melewati masa-masa sulit setelah kecelakaan kerja yang dialaminya.
“Kalau temen-temen alhamdulillah udah ngerti karena ini masalah kecelakaan kerja,” kata dia.
Sekitar dua bulan setelah kejadian, tepatnya 1 Oktober 2026, Rindy kembali masuk bekerja atas permintaan pihak perusahaan. Padahal, ia masih dalam proses pemulihan sehingga harus menjalaninya dengan pendampingan rekan kerjanya.
“Jujur saya pengennya kedepan bisa kerja lagi, tapi saya trauma di tempat itu lagi,” ungkapnya.
Disisi lain, kondisi fisik yang sekarang dimilikinya membuat ia menyadari bahwa mencari pekerjaan di masa mendatang mungkin tidak akan semudah sebelumnya.
“Tapi kalau di tempat lain, mungkin sudah tidak diterima karena kondisi saya seperti ini,” katanya.
Kini, di usianya yang baru 22 tahun, Rindy sedang belajar menjalani kehidupan dengan kondisi yang jauh berbeda dari sebelumnya. Ia harus membiasakan diri melakukan banyak hal menggunakan tangan yang tak lagi lengkap.
Tiga jari yang hilang memang tak mungkin kembali. Namun, keinginan Rindy untuk bekerja, mandiri, dan melanjutkan hidup belum sepenuhnya padam.
Di balik keterbatasan yang kini harus diterimanya, masih ada harapan untuk kembali berdiri dan menemukan jalan baru bagi masa depannya. (DIM)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS















