BERITACIKARANG.COM, CIKARANG TIMUR- Menjelang momen Iduladha tahun ini, sejumlah penjual sapi kurban di Kabupaten Bekasi memilih untuk mengurangi stok hewan kurban guna mengantisipasi risiko kerugian akibat kenaikan harga dan melemahnya daya beli masyarakat. Salah satu langkah tersebut diambil oleh Budiono, pemilik kandang sapi Ghita Farmer di Kecamatan Cikarang Timur.
Budiono mengungkapkan bahwa pihaknya sejak awal telah memutuskan untuk mengurangi jumlah sapi yang disediakan. Langkah ini dilakukan dengan lebih mengutamakan sistem pemesanan untuk menyesuaikan kondisi ekonomi yang belum stabil. Tahun ini, Ghita Farmer hanya menyediakan sekitar 150 ekor sapi, jauh lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 350 hingga 400 ekor.
“Kami tidak menyetok terlalu banyak. Sebagian besar sapi yang tersedia berdasarkan pesanan pelanggan. Saat ini sudah lebih dari 100 ekor yang terjual,” ujar Budiono, Kamis (07/05).
BACA: Jumlah Hewan Kurban yang Diperjualbelikan di Kabupaten Bekasi Turun 18 Persen
Kenaikan harga sapi kurban menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi keputusan tersebut. Budiono menjelaskan bahwa harga sapi kurban tahun ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini disebabkan oleh berkurangnya populasi sapi akibat wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang terjadi beberapa waktu lalu.
“Harga sapi Bali tahun lalu sekitar Rp48 ribu per kilogram. Sekarang naik menjadi Rp55 ribu sampai Rp58 ribu per kilogram di Bali,” katanya.
Kenaikan harga juga berdampak pada harga jual sapi kurban di tingkat peternak. Untuk sapi berbobot 300 hingga 350 kilogram yang paling banyak diminati masyarakat, harga tahun ini naik menjadi sekitar Rp22,5 juta per ekor dari sebelumnya sekitar Rp21 juta.
Selain kenaikan harga, kondisi ekonomi masyarakat juga turut memengaruhi daya beli. Budiono mencatat bahwa banyak perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK), sehingga sejumlah kelompok warga yang biasanya bergotong royong membeli hewan kurban kini mulai mengurangi pembelian.
“Biasanya di perumahan atau musala ada iuran kurban. Sekarang banyak yang menahan karena kondisi ekonomi,” ungkapnya.
Meski penurunan penjualan mulai dirasakan, Budiono menyebutkan bahwa dampaknya tidak terlalu signifikan, yakni berkisar antara 1 hingga 5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Ia optimistis penjualan masih berpotensi meningkat karena waktu menuju Iduladha masih tersisa sekitar tiga pekan lagi. (DIM)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
















