BERITACIKARANG.COM, CIBITUNG – Progres normalisasi Sungai Cikarang Bekasi Laut (CBL) di Kabupaten Bekasi masih jauh dari target penyelesaian.
Hingga Selasa 13 Oktober 2026 pekerjaan pada segmen pertama yang membentang dari Desa Kalijaya, Kecamatan Cikarang Barat, hingga Jembatan Pulo Puter, Desa Srimahi, Kecamatan Tambun Utara, baru mencapai sekitar 950 meter dari total penanganan 10 kilometer.
Padahal, pekerjaan yang dimulai sejak 1 September 2026 itu ditargetkan rampung pada 29 Desember mendatang.
Sekretaris Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi (SDA-BMBK) Kabupaten Bekasi, Denny Rusnandi, menjelaskan normalisasi pada segmen pertama didukung 11 unit ekskavator.
Namun, panjang penanganan yang telah dicapai masih sekitar 950 meter dari total 10 kilometer.
Artinya, berdasarkan angka tersebut, progres panjang penanganan baru sekitar 9,5 persen. Sementara itu, sekitar 9,05 kilometer masih harus ditangani sebelum tenggat penyelesaian pada akhir Desember 2026.
“Pada segmen pertama dari Desa Kalijaya, Cikarang Barat, pekerjaan berlangsung mulai 1 September hingga 29 Desember 2026, dengan panjang penanganan sekitar 10 kilometer,” ungkapnya.
“Hingga saat ini, progres fisik yang telah dikerjakan mencapai kurang lebih 950 meter dan didukung 11 unit ekskavator,” imbuhnya.
BACA: Kapal Tongkang ‘Nyangkut’ di Jembatan Kali CBL Babelan
Selain segmen pertama, normalisasi juga dilakukan pada ruas Jembatan Pulo Puter, Desa Srimahi, Kecamatan Tambun Utara, hingga Desa Sukamekar, Kecamatan Sukawangi.
Pekerjaan sepanjang sekitar enam kilometer ini dimulai pada 31 Agustus dan ditargetkan selesai 28 Desember 2026.
Pada segmen kedua tersebut, progres pekerjaan dilaporkan telah mencapai sekitar 2.450 meter dengan dukungan 10 unit ekskavator.
Denny mengatakan normalisasi diperlukan karena sedimentasi yang tinggi menyebabkan pendangkalan dan penyempitan badan sungai.
Kondisi tersebut menghambat aliran air dari sejumlah saluran yang bermuara ke Kali CBL, sehingga berpotensi meningkatkan risiko banjir ketika debit air naik pada musim hujan.
Ia juga mengungkapkan Kali CBL belum pernah mendapatkan normalisasi sejak dibangun.
Selain sedimentasi, pelaksanaan pekerjaan menghadapi kendala berupa bangunan liar di sepanjang alur sungai, terutama pada trase Desa Kalijaya, kondisi tanah yang rawan longsor di sekitar Jembatan Pulo Puter, serta tumpukan sampah. (DIM)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
















