BERITACIKARANG.COM, TAMBUN UTARA – Menjelang Lebaran, sejumlah warga di Desa Srimukti, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, sibuk memetik kelopak bunga Tihong, Jum’at (20/03) pagi. Bunga yang dikenal sebagai bunga tabur ini memiliki tiga jenis warna, yaitu merah, putih, dan merah muda.
Bunga Tihong menjadi kebutuhan utama masyarakat untuk tradisi tabur bunga saat ziarah kubur. Tradisi ini banyak dilakukan oleh warga pada momen Hari Raya Idul Fitri. Kondisi ini menjadi peluang bisnis yang menjanjikan bagi para pemilik kebun bunga Tihong. Namun, untuk memastikan masa panen tepat waktu menjelang Lebaran, para petani harus menyiapkan masa tanam dengan perencanaan yang matang.
“Bunga ini dipanen untuk persiapan Lebaran, buat tabur di makam,” kata Senah (51) salah satu pemilik kebun bunga Tihong di Desa Srimukti, Kecamatan Tambun Utara.
BACA: Tradisi Ziarah Kubur Warnai Idul Fitri di Kabupaten Bekasi
Sayangnya, musim panen tahun ini tidak berjalan mulus. Banyak kebun bunga Tihong mengalami kerugian besar akibat tanaman yang mati terendam banjir. Beberapa kebun yang berhasil panen pun harus rela menerima hasil yang tidak maksimal. Meski demikian, kelangkaan bunga Tihong di pasaran membuat harganya melonjak. Jika biasanya satu ember bunga dijual dengan harga Rp35 ribu, kini harganya meningkat menjadi Rp40 ribu hingga Rp50 ribu per ember.
“Biasanya saya panen dapat 20 ember dan dijual per ember Rp35 ribu sampai Rp50 ribu. Kalau habis, bisa dapat sekitar Rp5 juta. Tapi sekarang banyak yang gagal panen karena kebunnya terendam banjir,” tambah Senah.
Selain para petani, pengepul bunga juga turut merasakan dampak dari kelangkaan ini. Mereka mendatangi kebun-kebun untuk membeli hasil panen dan menjualnya kembali ke pengecer yang berjualan di area pemakaman umum.
“Kembang ini saya borong buat dijual ke pengecer. Sekarang bunganya lagi susah dicari karena banyak yang gak panen akibat banjir,” kata Legar, seorang pengepul.
Diketahui, bunga Tihong bisa dipanen hingga lima kali dalam sekali masa tanam, tergantung pada kondisi kesuburan tanah. Namun, bencana banjir yang melanda kawasan tersebut beberapa tahun belakangan ini menjadi tantangan besar bagi para petani untuk mempertahankan produktivitas tanaman mereka. (DIM)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
















