BERITACIKARANG.COM, CIKARANG SELATAN – Upaya Pemerintah Desa Sukadami bersama Puskesmas setempat dalam menekan angka kasus tuberkulosis (TB) menunjukkan hasil yang signifikan. Hingga Juni 2025, jumlah pasien gejala TBC di desa tersebut tercatat hanya sebanyak 217 orang, menurun drastis dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 2023 terdapat sekitar 1.071 pasien gejala TB, sementara di tahun 2024 jumlahnya turun menjadi 844 pasien.
Kepala Puskesmas Sukadami, dr. Adi Pranaya, mengungkapkan penurunan ini merupakan hasil kolaborasi antara Puskesmas dan kader kesehatan desa yang aktif melakukan deteksi dini, pelacakan kontak erat, serta pelaporan gejala TBC. “Tentunya penurunan ini berkat kerja sama yang solid antara Puskesmas dan para kader kesehatan desa,” ujar dr. Adi usai menghadiri acara Gerakan Bersama Desa/Kelurahan Siaga TB yang digelar di Desa Sukadami, Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, Senin (14/07).
Acara ini turut dihadiri oleh Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Dante Saksono Harbuwono, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronika VT Tan, Deputi II Kantor Staf Presiden Abetnego Tarigan, serta Deputi Bidang Politik, Hukum, Pertahanan dan Keamanan Sekretariat Kabinet Iskandar Muda.
BACA: Kabupaten Bekasi Catat 10 Ribu Kasus TBC, Terbesar ke 4 di Jabar
Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Dante Saksono Harbuwono, memberikan apresiasi terhadap langkah inovatif yang dilakukan oleh Pemerintah Desa Sukadami dalam memberikan insentif kepada kader kesehatan desa yang berperan penting dalam penanganan Tuberculosis (TBC). Dalam kunjungannya, dr. Dante menyebutkan bahwa insentif sebesar Rp 1.290.000 bagi setiap kader kesehatan desa menjadi bentuk penghargaan yang luar biasa terhadap dedikasi mereka. Meski demikian, dia menyebut jika insentif tersebut bukanlah alasan utama para kader kesehatan bekerja, melainkan bentuk apresiasi atas pengabdian mereka selama bertahun-tahun.
“Ada yang sudah bekerja selama 14 tahun, 11 tahun, bahkan ada yang baru memulai. Saya yakin mereka bekerja bukan karena insentif, tetapi karena rasa tanggung jawab sosial kepada lingkungan mereka,” ujar dr. Dante.
Ia menambahkan bahwa langkah Desa Sukadami ini dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain di Indonesia untuk memanfaatkan dana desa dalam mendukung para kader kesehatan. Selain insentif, perhatian terhadap kader juga bisa diwujudkan dalam bentuk fasilitas pendukung seperti kendaraan operasional atau alat kerja lainnya.
Namun, dr. Dante juga menekankan bahwa insentif bukanlah satu-satunya faktor yang menjamin keberhasilan program penanganan TB. Ia mengungkapkan bahwa di daerah Banjarnegara – Jawa Tengah, meski tidak ada insentif bagi kader kesehatan, angka kasus TB tetap mengalami penurunan. Hal ini terjadi berkat dedikasi dan perhatian yang diberikan oleh para kader kepada masyarakat.
“Kader kesehatan adalah ujung tombak dalam pelayanan dan pengentasan tuberculosis di Indonesia. Mereka bekerja dengan rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap lingkungan mereka, dan peran mereka harus kita hargai serta dukung sepenuhnya,” tegas dr. Dante.
Wakil Menteri PPPA Veronika VT Tan menjelaskan seluruh kader kesehatan adalah perempuan yang selama ini menjadi motor penggerak utama dalam edukasi dan pendampingan pasien TB. Ia menegaskan bahwa pelibatan perempuan dalam program kesehatan di tingkat desa adalah langkah strategis dalam pembangunan sosial. Menurutnya, perempuan merupakan penggerak utama di tingkat akar rumput, khususnya dalam isu kesehatan dan pendidikan anak.
“Kementerian PPPA mendukung penuh kolaborasi ini, karena dua per tiga penduduk Indonesia adalah perempuan dan anak. Artinya, mereka adalah penentu utama keberhasilan pembangunan sosial,” ujar Veronika.
Ia juga menyebut sinergi antara program kesehatan dan pemberdayaan perempuan di Desa Sukadami sebagai contoh nyata keberhasilan pendekatan berbasis komunitas. “Kalau ingin mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan, maka libatkan perempuan sejak dari perencanaan. Desa Sukadami telah membuktikan bahwa ketika perempuan diberi ruang dan kepercayaan, hasilnya luar biasa,” pungkasnya.
Langkah inovatif Desa Sukadami diharapkan dapat menginspirasi desa-desa lain untuk mengoptimalkan penggunaan dana desa demi mendukung program kesehatan masyarakat, khususnya dalam upaya pengentasan Tuberculosis yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia. (DIM)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS