Sampah Dibiarkan Menumpuk di TPS3R Wanajaya Cibitung, Hasil Program CSR HMMI

Sampah dibiarkan menggunung di Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) yang berlokasi di Kampung Rawalele, Desa Wanajaya, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Bekasi. TPS3R tersebut sebelumnya dibangun melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) oleh Hyundai Motor Manufacturing Indonesia (HMMI). 
Sampah dibiarkan menggunung di Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) yang berlokasi di Kampung Rawalele, Desa Wanajaya, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Bekasi. TPS3R tersebut sebelumnya dibangun melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) oleh Hyundai Motor Manufacturing Indonesia (HMMI). 

BERITACIKARANG.COM, CIBITUNG – Sampah dibiarkan menggunung di Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) yang berlokasi di Kampung Rawalele, Desa Wanajaya, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Bekasi.

Kondisi ini terjadi akibat tidak adanya pengangkutan sampah oleh Dinas Lingkungan Hidup selama periode cuti Lebaran. TPS3R tersebut sebelumnya dibangun melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) oleh Hyundai Motor Manufacturing Indonesia (HMMI).

Bacaan Lainnya

Ketua TPS3R Wanajaya, Ade Tarsono, mengungkapkan bahwa penumpukan sampah sudah berlangsung selama sekitar dua minggu, dimulai dari H-7 hingga H+7 Lebaran. Bahkan, setelah libur Lebaran berakhir, pengangkutan sampah masih belum kembali normal.

“Dari H-7 hingga H+7 atau sekitar dua minggu tidak ada pengangkutan sama sekali. Setelah Lebaran pun belum kembali normal, dalam satu minggu baru sekitar dua rit,” ujar Ade saat ditemui di lokasi, Senin (13/04).

Ade menjelaskan bahwa penundaan pengangkutan ini menyebabkan limbah rumah tangga menumpuk di TPS3R. Hal ini menimbulkan potensi gangguan lingkungan, terutama bau tidak sedap yang dirasakan oleh warga sekitar.

BACA: Rangkul Swasta Bangun TPS3R, Ridwan Kamil Ingin Kabupaten Bekasi Jadi Percontohan

TPS3R Wanajaya saat ini melayani sekitar 300 kepala keluarga di wilayah setempat, dengan mayoritas sampah yang masuk berupa limbah rumah tangga.  Ade berharap Dinas Lingkungan Hidup melalui UPTD 3 Cibitung dapat meningkatkan frekuensi pengangkutan sampah untuk mengatasi permasalahan ini.

“Kami berharap minimal empat rit dalam satu minggu, supaya sampah bisa cepat terangkut dan tidak menumpuk seperti sekarang,” pintanya.

Selain menjadi tempat pengelolaan sampah, TPS3R Wanajaya juga berperan sebagai sumber penghidupan bagi masyarakat sekitar, termasuk pemulung dan warga dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.

Penumpukan sampah ini turut berdampak pada mereka yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas di TPS3R.

“Banyak warga menggantungkan penghasilan di sini, seperti pemulung, termasuk janda lanjut usia. Jadi kondisi ini juga berdampak pada mereka,” tambah Ade.

Ade menegaskan bahwa pengelolaan sampah di TPS3R selama ini dilakukan secara swadaya oleh masyarakat sebagai bentuk dukungan terhadap program pemerintah dalam penanganan darurat sampah di Kabupaten Bekasi.

Ia berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian lebih terhadap pengangkutan residu sampah agar permasalahan ini tidak semakin meluas dan berdampak pada kesehatan lingkungan warga. (DIM)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Pos terkait