Terkena Minyak Pertamina, Ribuan Mangrove di Muaragembong Terancam Mati

Tumpukan plastik berisi limbah minyak pertamina yang diangkut menggunakan perahu nelayan di Desa Pantai Bahagia. Kecamatan Muaragembong.
Tumpukan plastik berisi limbah minyak pertamina yang diangkut menggunakan perahu nelayan di Desa Pantai Bahagia. Kecamatan Muaragembong.

BERITACIKARANG.COM, MUARAGEMBONG  –  Dampak dari insiden kebocoran minyak dan gas di sekitar anjungan Lepas Pantai YYA-1 area Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) di perairan Karawang terus dirasakan masyarakat Kabupaten Bekasi.

BACA: Legislator Desak Pertamina Beri Kompensasi Untuk Nelayan dan Petambak Muaragembong

Bacaan Lainnya

Selain berdampak terhadap menurunnya hasil tangkapan nelayan dan matinya bibit udang maupun benih ikan di tambak, insiden tersebut juga sudah merusak ekosistem mangrove yang menjadi obyek wisata alam di Kecamatan Muaragembong.

“Karena terkena limbah minyak, diprediksi 300 ribu mangrove di pesisir Muaragembong terancam mati,” kata Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) ALIPBATA, Sonaji, Senin (05/08).

Pria yang juga menjabat sebagai Kasi Pelayanan Desa Pantai Bahagia itu menuturkan sejak dua pekan lalu masyarakat setiap harinya bekerjasama dengan semua pihak mulai dari TNI, Polri dan Pertamina membersihkan limbah minyak yang menggumpal hitam dirumah-rumah warga dan di pesisir Pantai. “Saat ini sudah 3000 karung limbah minyak yang sudah diangkut,” ujarnya.

Sonaji mengaku hingga kini masyarakat belum menerima ganti rugi atau kompensasi dalam bentuk apapun sebagai dampak dari insiden tersebut. Menurutnya, pihak Pertamina baru sebatas menerjunkan tenaga medis mengingt banyak warga yang terkena penyakit dari minyak tersebut seperti gatal dan sesak napas karena baunya menyengat.

“Kemarin ada 120 warga yang terkena penyakit seperti gatal dan sesak nafas, kami berharap mendapatkan kompensasi karena kasihan masyarakat sudah banyak dirugikan, ” harapnya. (SAR)

Pos terkait