BERITACIKARANG.COM, SERANG BARU – Warga Perumahan Grand Cikarang Village (GCV) yang terletak di Desa Jayasampurna, Kecamatan Serang Baru, Kabupaten Bekasi dihantui kecemasan akibat ancaman banjir dari luapan Kali Cikarang. Salah satu titik tanggul yang sebelumnya dibangun oleh pihak pengembang untuk mengatasi banjir kini telah ambrol.
Roni (56), salah satu warga setempat mengungkapkan bahwa tanggul tersebut dibangun pihak pengembang setelah banjir besar melanda kawasan tersebut sebanyak tiga kali pada awal tahun 2025 lalu. Tanggul itu dibangun pada bulan September – Oktober 2025 menggunakan urugan tanah dari bantaran Kali Cikarang.
“Dulu tanggul ini dibuat pengembang untuk mencegah banjir. Tanah dari bantaran kali dinaikkan untuk dijadikan tanggul,” ujar Roni saat ditemui di lokasi pada Minggu (15/02).
BACA: Banjir di Grand Cikarang Village, Warga Ngedumel di TikTok: Over Kredit Rp 50 Juta!
Namun, kondisi tanggul kini memprihatinkan. Salah satu bagian tanggul yang letaknya hanya sekitar 10 meter dari rumah Roni telah ambrol. Menurutnya, ambrolnya tanggul disebabkan oleh pembangunan yang kurang maksimal sehingga tanggul dengan mudah terkikis air saat hujan deras pada November 2025. “Ambrol sedikit demi sedikit ya, sekarang sudah parah dan lebar. Bahkan saluran air di bawahnya juga ikut ambrol,” jelasnya.
Kondisi ini membuat warga, khususnya yang tinggal di Blok R, S, hingga N, merasa khawatir setiap kali debit air Kali Cikarang naik. Pasalnya, tidak ada lagi tanggul yang menjadi penghalang laju air ke pemukiman warga. “Setiap air naik, kami was-was terus. Takut nanti kejadian seperti tahun 2025 terulang lagi,” ungkap Roni.
Sejak awal Januari 2026, debit air Kali Cikarang dilaporkan telah naik sebanyak tiga kali dan hampir meluap ke pemukiman warga. Untuk mengantisipasi kerugian jika banjir terjadi, warga mulai memindahkan barang-barang berharga ke tempat yang lebih tinggi.
“Saya buat tempat penyimpanan di plafon rumah, barang-barang penting saya simpan di situ. Barang elektronik juga saya gantung di dinding. Kalau air sudah surut, baru saya turunkan lagi,” ujar Roni.
Warga berharap pihak pengembang segera mengambil langkah serius untuk memperbaiki tanggul yang ambrol agar ancaman banjir dapat diminimalkan. “Kami ingin tanggul ini dibangun dengan maksimal, kalau bisa pakai beton. Jadi kami tidak perlu was-was setiap kali debit air tinggi,” harapnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pengembang belum memberikan keterangan resmi terkait kondisi tanggul maupun rencana perbaikan. Warga berharap ada solusi konkret untuk mengatasi masalah ini demi kenyamanan dan keamanan mereka. (DIM)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
















