Pemkab Bekasi Cari Skema Penanganan Abrasi di Muaragembong

Terancam abrasi: Kondisi pemukiman warga di Desa Pantai Bahagia Kecamatan Muaragembong yang diterjang banjir rob, Jum'at (05/06).
Terancam abrasi: Kondisi pemukiman warga di Desa Pantai Bahagia Kecamatan Muaragembong yang diterjang banjir rob, Jum'at (05/06).

BERITACIKARANG.COM, CIKARANG PUSAT  – Kawasan pesisir Muaragembong, sudah bertahun-tahun dilanda abrasi. Masyarakatnya pun terbiasa disuguhkan pemandangan naiknya permukaan air laut ke daratan dalam kehidupannya sehari-hari.

Asisten Administrasi Umum (Asda III) Pemkab Bekasi, Jaoharul Alam mengatakan bencana alam di wilayah pesisir Muaragembong ini telah menjadi perhatian Pemkab Bekasi. Abrasi terjadi karena dua faktor yaitu alam dan aktivitas manusia.

Bacaan Lainnya

“Pesisir Muaragembong merupakan wilayah pesisir yang langsung berbatasan dengan Laut Jawa sehingga memiliki kerentanan bencana abrasi ditambah perubahan penggunaan lahan dari lahan mangrove menjadi tambak,” ujar Jaoharul Alam.

Bahkan dari hasil pengamatan dengan program digital shoreline analysis system (DSAS) selama 34 tahun dari 1988-2022 terjadi perubahan garis pantai di 13 zona lokasi pengamatan. Dimana delapan zona terjadi abrasi seluas 2.463,3 dan lima zona terjadi akresi (penambahan daratan) seluas 317,9hektar.

“Dengan luasnya daratan pesisir Pantai Muaragembong yang hilang karena abrasi perlu segera diambil langkah Strategis Dan Kebijakan Teknik ataupunKebijakan Non Teknik oleh Pemerintah Pusat, Provinsi Jabar ataupun Kabupaten Bekasi,” katanya.

Sementara itu Kepala Bidang Ekonomi Pembangunan di Badan Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Bekasi, Indra Wahyudi mengatakan Pemerintah Kabupaten Bekasi belum lama ini telah menggelar  FGD (focus group discussion) sebagai tindak lanjut hasil kajian penanganan abrasi pantai di Muaragembong pada tahun 2022 lalu.

Kegiatan yang dihadiri beberapa perwakilan dari lintas kementerian seperti Kementerian PUPR, Kementerian Lingkungan Hidup, BBWS, PPN/Bappenas dan Pappeda, DKP Pemprov Jabar serta tim Peneliti Pantai ini bertujuan untuk membahas masalah abrasi yang terus terjadi di Muaragembong sekaligus mencari solusi penanganan permanen di wilayah paling utara Pulau Jawa itu.

“Ya abrasi Muaragembong itukan sudah terjadi cukup lama, jika dibiarkan maka daratan akan terkikis terus. Sampai saat ini saja sudah ribuan hektar tanah yang terdampak abrasi di sana,” ujar Indra Wahyudi.

Jika terus dibiarkan, sambungnya, abrasi akan mengancam wilayah pemukiman dan mata pencaharian warga di Muaragembong. Selain itu juga, ekosistem yang ada di sana akan terancam mengalami kepunahan, khususnya habitat Lutung Jawa, yang telah menjadi ikon kabupaten Bekasi. (dim)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Pos terkait