Menghidupkan Kembali ‘Koridor Pejuang’: Urgensi Jadikan Cibarusah Sebagai Kawasan Cagar Budaya

Masjid Jami Al Mujahidin Cibarusah
Masjid Jami Al Mujahidin Cibarusah

Oleh:  R Agah Handoko*

BEKASI seringkali hanya dipandang sebagai kawasan industri yang hiruk-pikuk dengan pabrik dan beton. Namun, jika kita menilik lebih dalam ke arah selatan, tepatnya di Kecamatan Cibarusah, kita akan menemukan sebuah fragmen sejarah yang terlupakan.

Bacaan Lainnya

Di sana, membentang sebuah jalur yang saya sebut sebagai “Koridor Pejuang”, yakni jalur yang menghubungkan Masjid Al-Mujahidin hingga Pondok Pesantren Al-Baqiyatus Sholihat, Cibogo.

Sudah saatnya kawasan ini tidak hanya dilihat sebagai tempat ibadah atau sekolah agama biasa, melainkan ditetapkan secara resmi sebagai Kawasan Cagar Budaya. Mengapa ini menjadi mendesak?

Jantung Pertahanan Hizbullah

Masjid Al-Mujahidin bukan sekadar bangunan tua dengan menara. Pada tahun 1945, masjid ini adalah pusat gravitasi perlawanan. Di sinilah Laskar Hizbullah ditempa secara militer dan spiritual. Ratusan pemuda dari seluruh penjuru Jawa berkumpul, berlatih, dan mengikrarkan janji untuk merdeka atau mati. Secara historis, Masjid Al-Mujahidin adalah cikal bakal kekuatan rakyat yang menjadi fondasi militer bangsa ini.

Pusat Intelektual Mama Cibogo

Bergerak sedikit ke arah Cibogo, kita menjumpai Pondok Pesantren Al-Baqiyatus Sholihat. Di sinilah tokoh besar, KH. Raden Ma’mun Nawawi (Mama Cibogo), menyemai benih-benih intelektual. Beliau bukan hanya ulama yang kharismatik, tapi juga pemikir produktif yang menulis puluhan kitab. Hubungan antara Masjid Al-Mujahidin (sebagai pusat gerakan fisik) dan Pesantren Al-Baqiyatus Sholihat (sebagai pusat pemikiran) menciptakan sebuah ekosistem perjuangan yang lengkap: Otak dan Otot, Doa dan Senjata.

BACA: Pemakaman Belanda di Cibarusah Diusulkan Jadi Cagar Budaya

Ancaman Modernisasi Tanpa Akar

Saat ini, Bekasi terus tumbuh. Pembangunan perumahan dan pelebaran jalan terus mengancam situs-situs bersejarah kita. Tanpa status Kawasan Cagar Budaya, kita berisiko kehilangan identitas. Bangunan-bangunan bersejarah di sepanjang jalur Cibarusah-Cibogo bisa saja dipugar tanpa arah, atau bahkan dihancurkan demi kepentingan ekonomi jangka pendek.

Menjadikan jalur ini sebagai Kawasan Cagar Budaya berarti memberikan perlindungan hukum melalui UU No. 11 Tahun 2010. Ini bukan berarti menghentikan pembangunan, melainkan mengatur agar pembangunan tersebut selaras dengan nafas sejarahnya.

Lebih Dari Sekadar Nostalgia

Kampanye untuk menjadikan koridor ini sebagai cagar budaya adalah upaya kita memberikan “ruh” pada pembangunan Bekasi. Kita ingin generasi mendatang tahu bahwa kemerdekaan Indonesia juga diperjuangkan dari jalanan berdebu di Cibarusah. Kita ingin wisatawan datang bukan hanya untuk belanja, tapi untuk berziarah ke titik di mana para pahlawan pernah berdiri.

Seperti kita ketahui di koridor Kp Cibogo hingga Kp Babakan sejauh 1 KM lebih terdapat 1 bangunan Cagar Budaya dan sekitar 4 bangunan Obyek Diduga Cagar Budaya ( ODCB) juga beberapa makam tokoh Ulama dan Pejuang Kemerdekaan yang terancam tergusur jika tidak di lindungi.

Lokasi yang teramat dekat dengan jalan raya membuat keberadaan nya bisa saja tergusur bila rencana pelebaran Jalan KH R Ma’mun Nawawi dilanjutkan hingga Pasar Cibarusah sebagaimana disampaikan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan Mantan Bupati Bekasi Ade Kuswara Kunang beberapa waktu lalu.

Sebagai Solusi bila Kawasan Cibogo – Babakan ,  Cibarusah ditetapkan sebagai Cagar Budaya terhadap rencana pelebaran jalan KH R Mamun Nawawi adalah dengan mengalihkan ruas jalan ke arah Irigasi Kp Cigutul menuju Kp Gandaria dan titik terakhir di Pasar Cibarusah .

Solusi ini menurut saya sangat memungkinkan ,selain masih banyak tanah milik Negara area Jalan alternatif jalur Kp Cigutul sampai Kp Gandaria  juga di penuhi kawasan Perumahan yang diyakini akan dengan senang hati ikut berpartisipasi mendukung kebijakan Pemerintah

Pemerintah Kabupaten Bekasi dan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) pun  perlu segera mengambil langkah konkret. Namun, dorongan dari masyarakat adalah kunci utamanya. Mari kita jaga “Koridor Pejuang” ini. Sebab, bangsa yang besar bukan hanya yang memiliki banyak pabrik, tapi bangsa yang mampu menjaga ingatan akan akar sejarahnya sendiri.*

*Penulis adalah Ketua Komunitas Historika Bekasi

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Pos terkait