BERITACIKARANG.COM, SERANG BARU – Harga kedelai impor yang menjadi bahan baku utama pembuatan tempe terus merangkak naik. Kondisi ini memaksa para perajin tempe di Kabupaten Bekasi menyiasati situasi dengan memperkecil ukuran produk mereka.
Sukhep, salah satu perajin tempe asal Kecamatan Serang Baru, mengungkapkan bahwa kenaikan harga kedelai membuatnya harus mengambil langkah tersebut. Saat ini, harga kedelai telah mencapai Rp10.900 per kilogram, naik dari sebelumnya Rp10.000 per kilogram.
“Kalau biasanya 1 kuintal kedelai harganya Rp1 juta, sekarang sudah tembus Rp1 juta 90 ribu,” ujar Sukhep pada Rabu (01/04).
BACA: Pemkab Bekasi Ajak Petani Genjot Produksi Kedelai Lokal
Menurut Sukhep, lonjakan harga kedelai ini sudah terjadi sejak sebelum Idul Fitri 1447 Hijriah. Ia juga menambahkan bahwa harga kedelai terus berfluktuasi setiap kali pasokan baru tiba. “Pokoknya setiap kali turun dari truk, harga naik Rp10 ribu per kuintal. Besok juga bisa saja naik lagi Rp10 ribu,” tambahnya.
Tak hanya kedelai, bahan pendukung seperti plastik pembungkus juga mengalami kenaikan harga. Plastik yang biasanya dibeli seharga Rp270 ribu per rol kini melonjak menjadi Rp380 ribu. Kenaikan ini diduga disebabkan oleh ketergantungan pada bahan baku biji plastik impor.
Sukhep menduga situasi global, termasuk konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran, menjadi salah satu penyebab kenaikan harga bahan baku. “Infonya sih efek dari konflik di Timur Tengah,” ujarnya.
Menyikapi kondisi ini, Sukhep memilih untuk tidak menaikkan harga tempe yang diproduksinya. Sebagai gantinya, ia memutuskan untuk memperkecil ukuran tempe agar tetap dapat bertahan di tengah lonjakan biaya produksi.
“Mungkin ukuran tempe diperkecil. Tetapi kalau yang lain naik pada naik, bisa juga harga naik Pak. Yang jelas kalau keadaan kayak gini produksi juga bisa turun karena ukuran tempe nyusut,” jelas Sukhep. (DIM)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

















