BERITACIKARANG.COM, CIKARANG SELATAN – Ramainya peziarah di area Pemakaman Mbah Buku di Kampung Pasir Konci, Desa Pasirsari, Kecamatan Cikarang Selatan pada momen Idulfitri 1447 Hijriah ternyata tidak berbanding lurus dengan omset para pedagang bunga musiman. Dibalik tradisi nyekar yang masih terjaga, terselip kisah perjuangan para pedagang kecil yang harus bertahan ditengah kenaikan harga bahan baku dan menurunnya daya beli masyarakat.
Nanik (56), salah seorang pedagang bunga tabur yang sudah bertahun-tahun berjualan di area tersebut, mengungkapkan bahwa Lebaran tahun ini sangat berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Meski peziarah tetap berdatangan, jumlah pembeli bunga tabur mengalami penurunan yang cukup signifikan.
“Kalau sekarang mah sepi (yang nyekar), tidak seperti dulu. Ada pembeli, tetapi tidak seramai sebelumnya,” ujar Nanik pada Sabtu (21/03).
BACA: Jelang Lebaran, Warga Tambun Utara Panen Bunga Tihong
Nanik menjual bunga tabur dalam kemasan kantong plastik dengan harga Rp10.000 per kantong. Namun, harga yang terjangkau ini justru menjadi dilema baginya. Di satu sisi, ia khawatir menaikkan harga akan membuat pelanggan enggan membeli. Di sisi lain, margin keuntungan yang ia peroleh semakin menipis akibat kenaikan harga bahan baku.
“Satu kantong Rp10.000, itu juga sudah tipis keuntungannya. Kalau dinaikan takut tidak laku,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa lonjakan harga bahan baku seperti daun pandan dan bunga pihong atau pacar air menjadi salah satu penyebab utama menurunnya pendapatannya tahun ini. Kenaikan harga bahan baku tersebut dipicu oleh banyaknya petani yang gagal panen akibat banjir yang melanda beberapa daerah.
“Kita kan nggak nanam sendiri, jadi harus beli. Harga bahan baku naik semua katanya gara-gara banyak yang gagal karena banjir,” jelas Nanik.
Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, pendapatan Nanik menurun drastis. Jika di masa Lebaran sebelumnya ia mampu meraup hingga Rp1,5 juta dalam sehari, kini ia hanya bisa mendapatkan sekitar Rp500 ribu. “Kalau sekarang paling Rp500 ribuan, tipis untungnya. Dulu pernah sampai Rp1,5 juta,” kenangnya.
Meski situasi sulit, semangat Nanik untuk terus berjualan tidak surut. Ia berencana tetap membuka lapaknya hingga H+3 Lebaran, memanfaatkan sisa-sisa momentum para peziarah yang datang ke pemakaman. “Biasanya itu ramai dari jam 9 sampai 12 siang. Saya jualan sampai H+3 lebaran,” tutup Nanik. (DIM)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

















