Desa Kalijaya ‘Kewalahan’ Tangani Longsor Bantaran Kali Cikarang

Sejumlah rumah warga di Kampung Kaum RT 01/05, Desa Kalijaya, Kecamatan Cikarang Barat mengalami kerusakan parah hingga ambruk akibat tanah pondasi yang terus terkikis aliran Kali Cikarang saat musim hujan melanda. Kondisi ini memaksa sejumlah warga kehilangan tempat tinggal karena struktur bangunan yang sudah tidak stabil dan membahayakan keselamatan jiwa
Sejumlah rumah warga di Kampung Kaum RT 01/05, Desa Kalijaya, Kecamatan Cikarang Barat mengalami kerusakan parah hingga ambruk akibat tanah pondasi yang terus terkikis aliran Kali Cikarang saat musim hujan melanda. Kondisi ini memaksa sejumlah warga kehilangan tempat tinggal karena struktur bangunan yang sudah tidak stabil dan membahayakan keselamatan jiwa

BERITACIKARANG.COM, CIKARANG BARAT – Pemerintah Desa Kalijaya mengaku kewalahan dalam menanganani bencana tanah longsor yang mengikis sejumlah rumah warga di bantaran Kali Cikarang saat debit air tinggi. Pasalnya, terdapat keterbatasan anggaran dan kewenangan pemerintah desa untuk menangani persoalan tersebut.

Sekretaris Desa Kalijaya, Ramdan, menyampaikan bahwa pemerintah desa setempat telah mengambil langkah-langkah darurat untuk membantu warga terdampak. “Kalau dari pemerintah desa, kami sudah mengupayakan bantuan berupa sembako dan melaporkan kejadian ini ke dinas terkait serta pemerintah daerah,” ungkapnya, Rabu (01/04).

Bacaan Lainnya

Selain itu dirinya mengakui adanya keterbatasan anggaran dan kewenangan pemerintah desa dalam menangani renovasi fisik bangunan, terutama karena lokasi tersebut berada di zona rawan bencana alam. “Untuk membangun kembali rumah-rumah yang sudah longsor itu sulit, karena tanahnya sudah terkikis oleh air. Jadi untuk dibangun kembali juga tidak memungkinkan,” kata dia.

BACA: 4 Rumah Warga di Bantaran Kali Cikarang Tergerus Longsor

Berdasarkan data yang dihimpun, sedikitnya ada empat rumah milik tiga Kepala Keluarga (KK) yang terdampak longsor di wilayah tersebut. Sebagian besar warga telah memilih untuk mengungsi dan menyewa tempat tinggal di lokasi yang lebih aman. Namun, masih ada beberapa warga yang bertahan di area berisiko tersebut.

“Sebagian besar warga sudah pindah, tapi ada beberapa yang masih bertahan. Kami terus memantau situasi mereka dan mengingatkan agar tidak membuang sampah sembarangan, karena hal ini juga bisa memperparah kondisi sungai. Longsor ini adalah bencana alam, dan kita tidak pernah tahu kapan banjir akan datang,” tambah Ramdan.

Ramdan menegaskan bahwa hingga saat ini warga masih berharap adanya solusi konkret dari Pemerintah Daerah. Meskipun tanah yang mereka tempati merupakan milik pribadi secara sah, kondisi erosi membuat lahan tersebut tak lagi layak untuk dihuni.

“Semua tanah di sini adalah hak milik warga. Kami sudah berupaya semaksimal mungkin untuk menangani masalah ini. Tapi, kondisi aliran air di Kali Cikarang yang merupakan kali alami memang menjadi tantangan tersendiri,” ungkapnya.

Sebelumnya, sedikitnya empat rumah warga di bantaran Kali Cikarang, tepatnya di Kampung Kaum RT 01 RW 05, Desa Kalijaya, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi mengalami kerusakan akibat bencana tanah longsor. Longsor ini terjadi karena derasnya arus air saat debit Kali Cikarang meningkat.

Puput (30), salah satu warga terdampak, menceritakan bahwa tanah di sekitar rumahnya telah terkikis sedikit demi sedikit selama beberapa tahun terakhir. Namun, kejadian longsor terparah terjadi pada bulan Juli 2025. Rumah milik ibunya, Mumun, yang merupakan seorang janda tua, kini sudah tidak bisa dihuni lagi.

“Awalnya jarak antara dinding belakang rumah dengan sungai itu sekitar 7 meter. Tapi karena erosi terus-menerus, akhirnya dinding dapur dan ruang kumpul keluarga ikut hilang terkena longsor,” ujar Puput, Senin (30/03) sore.

Puput menambahkan bahwa selain rumah ibunya, tiga rumah lainnya yang berada di pinggir Kali Cikarang juga mengalami kerusakan parah dan tidak dapat dihuni lagi. “Sekarang saya dan ibu tinggal di rumah kontrakan. Begitu juga dengan tetangga yang lain, mereka sudah pindah karena rumahnya tidak layak huni lagi,” ungkapnya.

Ia pun berharap pemerintah setempat dapat memberikan perhatian serius terhadap masalah ini. “Kami berharap ada solusi dari pemerintah, meskipun rumah kami mungkin tidak bisa dibangun kembali, setidaknya ada upaya penanggulangan seperti pembangunan tanggul agar tanah warga tidak terus terkikis oleh air,” harapnya. (DIM)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Pos terkait