Belum Setahun Didatangi Prabowo, Pemukiman Warga di Desa Buni Bakti Kembali Banjir

Banjir merendam permukiman warga di Desa Buni Bakti, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi.
Banjir merendam permukiman warga di Desa Buni Bakti, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi.

BERITACIKARANG.COM, BABELAN – Banjir kembali merendam permukiman warga di Desa Buni Bakti, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi. Genangan air yang sudah berlangsung sekitar tiga minggu ini memiliki ketinggian air bervariasi, mulai dari selutut orang dewasa di dalam rumah hingga sepangkal paha di luar rumah. Bahkan, bagi warga bertubuh lebih pendek, air bisa mencapai setinggi pinggang.

Siti Fatonah (47), salah seorang warga yang terdampak, terpaksa mengungsi ke rumah kontrakan sejak sepekan terakhir. Ia mengaku tidak memiliki tempat untuk menumpang sehingga harus menyewa kontrakan dengan biaya Rp600 ribu per bulan, ditambah listrik token sekitar Rp100 ribu. Kondisi ini cukup berat bagi keluarganya, mengingat suaminya bekerja serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu.

Bacaan Lainnya

“Kalau ada kerjaan ya dapat duit, kalau nggak ya nggak. Makanya ngontrak ini patungan sama saudara,” kata dia, Senin (26/01)

BACA: Harapan Warga Babelan: Bebas Banjir Usai Kunjungan Presiden Prabowo

Sementara itu, warga lain yang tidak mampu menyewa kontrakan memilih bertahan di sekitar rumah dengan mendirikan tenda darurat dari terpal dan bambu seadanya. Namun, kondisi di pengungsian darurat sangat tidak nyaman. Selain dingin pada malam hari, nyamuk menjadi keluhan utama warga.

“Kalau malam dingin banget, nyamuk. Di kontrakan aja dinginnya kerasa,” kata dia.

Warga lainnya mengatakan banjir kali ini bukan hanya disebabkan oleh hujan lokal, melainkan juga air kiriman dari wilayah hulu. Meskipun saluran air telah dikeruk, banjir tetap terjadi karena berkurangnya daerah resapan akibat alih fungsi lahan menjadi perumahan.

“Kalau hujan di sini aja nggak bakal banjir. Ini air kiriman. Sawah-sawah sudah jadi perumahan, serapan air sudah nggak ada,” kata dia.

Selain itu, dampak kesehatan juga mulai dirasakan warga, terutama anak-anak yang mengalami flu akibat cuaca dingin dan lembap. Selain itu, penyakit kulit seperti gatal-gatal dan kutu air turut menghantui mereka. “Anak-anak pilek, jadi sedia obat sendiri, parasetamol, jangan sampai meriang,” tambahnya.

Warga sangat membutuhkan bantuan berupa bahan makanan dan obat-obatan. Persediaan beras semakin menipis sehingga mereka kerap hanya mengandalkan mi instan sebagai makanan sehari-hari. “Kadang sore makannya cuma mi. Nasi kadang nggak kebagian. Anak saya banyak,” tambah Ayu (44) warga lainnya.

Banjir ini sempat menjadi perhatian Presiden Subianto saat berkunjung ke lokasi pada Maret 2025 lalu. Presiden saat itu berjanji akan memberikan perhatian serius terhadap masalah banjir yang sering melanda wilayah tersebut. Namun hingga kini, warga masih berharap adanya tindakan nyata dan bantuan segera dari pemerintah maupun pihak terkait untuk mengatasi kondisi darurat yang mereka alami. (DIM)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Pos terkait