BERITACIKARANG.COM, CIKARANG SELATAN – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, masyarakat di berbagai wilayah, termasuk Kabupaten Bekasi, menghidupkan kembali tradisi Munggahan. Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun ini menjadi momen sakral untuk mempererat silaturahmi dan mempersiapkan diri secara spiritual sebelum memasuki bulan puasa.
Tradisi Munggahan diisi dengan beragam kegiatan yang penuh makna. Warga biasanya melakukan ziarah kubur ke makam keluarga yang telah tiada, mengunjungi orang tua dan kerabat untuk saling bermaafan, hingga mengadakan acara makan bersama atau yang dikenal dengan istilah “botram”.
Devi (33), warga Desa Pasirsari, Kecamatan Cikarang Selatan, mengungkapkan bahwa tradisi ini memiliki arti mendalam bagi dirinya dan keluarga. “Menurut saya, tradisi ini bukan sekadar makan-makan, tetapi juga momen untuk mempererat kembali tali persaudaraan sebelum kita fokus beribadah selama sebulan penuh,” ujarnya, Kamis (18/02).
BACA: Munggahan, Sate Maranggi Mbah Goen Diserbu Pengunjung
Ahmad Djaelani, Wakil Ketua Dewan Kebudayaan Daerah Kabupaten Bekasi, menjelaskan bahwa tradisi Munggahan merupakan bagian dari budaya masyarakat muslim di tataran Sunda. Tradisi ini tidak hanya dilakukan di Jawa Barat, tetapi juga di sebagian wilayah Jawa Tengah, Jakarta, hingga Banten.
“Secara bahasa, munggahan berasal dari kata dasar ‘unggah’ dalam bahasa Sunda yang berarti naik. Dalam konteks ini, maknanya diselaraskan dengan nilai-nilai Islam sehingga tidak hanya berarti ‘naik’ secara harfiah, tetapi juga ‘meningkat’ dalam hal iman dan kualitas diri sebelum memasuki bulan Ramadan,” kata dia.
Beragam kegiatan dilakukan masyarakat dalam tradisi Munggahan. Selain ziarah kubur dan makan bersama keluarga atau kerabat, beberapa juga memanfaatkan momen ini untuk berbelanja kebutuhan Ramadan. Tradisi ini mencerminkan nilai kebersamaan yang kuat di tengah masyarakat.
Tahun ini, sambung Djaelani, tradisi Munggahan menunjukkan tren baru. Banyak warga yang kini memilih lokasi-lokasi ikonik untuk melakukan botram bersama keluarga atau teman-teman. Tren ini dipengaruhi oleh rekomendasi tempat makan yang tersebar di media sosial. “Fenomena ini menunjukkan bahwa tradisi Munggahan tetap eksis dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman,” kata dia. (DIM)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
















