Sumarni Bantu Perjuangan ‘Kernet Delman Cilik’ Habibi Raih Pendidikan

Kapolres Metro Bekasi, Kombes Sumarni memberikan dukungan kepada Khoirul Ahmad Habibi (11) yang tengah berjuang untuk tetap bisa bersekolah di tengah keterbatasan dengan menjadi kernet delman.
Kapolres Metro Bekasi, Kombes Sumarni memberikan dukungan kepada Khoirul Ahmad Habibi (11) yang tengah berjuang untuk tetap bisa bersekolah di tengah keterbatasan dengan menjadi kernet delman.

BERITACIKARANG.COM, TAMBUN UTARA – Kisah Khoirul Ahmad Habibi (11) yang berjuang untuk tetap bisa bersekolah di tengah keterbatasan dengan menjadi kernet delman dan mengurus kuda majikannya membuat Kepolisian Resort Metro Bekasi tergugah untuk membantu. Melalui program berbagi, Kapolres Metro Bekasi, Kombes Sumarni mendatangi kediaman Habibi untuk memberikan bantuan.

“Ini menyentuh hati kami untuk mengunjungi Habibi, untuk memotivasi Habibi supaya bisa tetap belajar dengan baik, mengambil cita-citanya. Jangan menyerah terhadap situasi kondisi yang ada,” kata Sumarni, usai menyambangi kediaman Habibi di wilayah Desa Sriamur, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, Rabu (11/02) malam.

Bacaan Lainnya

Sejumlah bantuan juga diberikan, mulai dari kursi roda, sepeda, seragam sekolah, serta paket sembako. Kursi roda diberikan untuk nenek dari Habibi yang sedang mengalami sakit, sementara sepeda dan perlengkapan sekolah diberikan untuk Habibi yang selama ini turut membantu perekonomian keluarga dengan menjadi kernet delman.

BACA: 37 Ribu Anak di Kabupaten Bekasi Tidak Sekolah

Selain bantuan sosial, Polres Metro Bekasi juga memberikan dukungan berkelanjutan dengan membantu menyediakan pekerjaan bagi Bapak Asep di SPPG Polri Polres Metro Bekasi, sebagai upaya membantu meningkatkan kesejahteraan keluarga.

“Kita berharap bantuan tersebut dapat meringankan beban keluarga serta memotivasi Habibi agar tetap semangat menempuh pendidikan dan tidak putus sekolah demi meraih masa depan yang lebih baik,” tutupnya.

Sebelumnya, kisah perjuangan Khoirul Ahmad Habibi, seorang siswa kelas 4 SD Negeri Srimukti 02 di Kabupaten Bekasi benar-benar menyentuh hati. Di usianya yang baru 11 tahun, Habibi harus menghadapi kenyataan hidup yang tidak mudah. Demi tetap bisa bersekolah, ia rela menjadi kernet delman dan mengurus kuda milik majikannya.

Setiap akhir pekan, Habibi bekerja membantu Agus, pemilik delman di Desa Karang Satria. Tugasnya adalah mengurus kuda, memberi makan, dan membantu menarik delman. Dari hasil kerjanya, Habibi mendapatkan upah sekitar 20 hingga 50 ribu rupiah, tergantung banyaknya penumpang yang menggunakan jasa delman tersebut. Uang yang ia dapatkan digunakan untuk keperluan sekolah dan kebutuhan pribadinya.

BACA: Perjuangan ‘Bocah Bekasi’ di Tengah Keterbatasan Ekonomi: Jadi Kernet Delman Demi Mengejar Pendidikan

Kehidupan Habibi memang penuh tantangan. Ia tinggal bersama kedua orang tuanya di sebuah rumah kontrakan kecil di Desa Sriamur, Tambun Utara. Ayahnya, Asep Rusliadi, bekerja serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu. Sementara ibunya, Sami, sedang berada di rumah sakit untuk merawat adiknya yang sakit. Selain itu, keluarga Habibi juga harus menanggung biaya hidup kakek-neneknya serta seorang adik ipar yang mengalami disabilitas mental.

Keterbatasan ekonomi keluarga membuat Habibi hampir putus sekolah. Meskipun sekolahnya tidak memungut biaya, jarak yang cukup jauh dan tidak adanya uang jajan membuat perjuangannya semakin berat. Setiap hari, ia harus berjalan kaki lebih dari satu kilometer untuk sampai ke sekolah.

Meski demikian, semangat Habibi untuk belajar tidak pernah surut. Ia tetap berusaha membagi waktu antara sekolah dan bekerja. Bahkan, ia rela mengorbankan waktu bermainnya demi membantu meringankan beban keluarganya. “Saya narik delman Sabtu atau Minggu. Biasanya dapat uang 20 atau 30 ribu buat sekolah,” ujar Habibi.

Di sisi lain, Agus, pemilik delman tempat Habibi bekerja, mengaku iba melihat kondisi ekonomi keluarga Habibi. Ia pun memberikan kesempatan kepada Habibi untuk bekerja meski usianya masih sangat muda. “Dia sudah tiga bulan ikut saya. Biasanya dia ngurusin kuda, kasih makan kuda. Kalau narik delman, saya kasih duit 30 atau 50 ribu tergantung penumpang,” ungkap Agus.

Asep, ayah Habibi, merasa berat hati harus mengizinkan anaknya bekerja di usia yang masih belia. Namun, keadaan memaksanya untuk menerima kenyataan tersebut. “Awalnya dari diri dia sendiri ingin cari uang buat jajan dan sekolah. Saya izinkan karena saya tidak bisa memberikan uang jajan. Yang penting dia bisa tetap sekolah,” kata Asep.

Kisah Khoirul Ahmad Habibi menjadi kernet delman adalah cerminan perjuangan seorang anak Indonesia untuk meraih pendidikan di tengah keterbatasan ekonomi. Di balik senyumnya yang polos, tersimpan tekad dan semangat luar biasa untuk mengubah nasibnya di masa depan. (DIM/DED)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Pos terkait