Jembatan Cinta di Kecamatan Tarumajaya
Jembatan Cinta di Kecamatan Tarumajaya

Menanti Geliat Perekonomian Warga dari Jembatan Cinta

BERITACIKARANG.COM, TARUMAJAYA – Sejak pandemi Covid-19 melanda, sektor pariwisata adalah salah satu sektor yang terdampak paling buruk. Terlebih dengan adanya kebijakanan Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Jembatan Cinta sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Kabupaten Bekasi yang berbatasa dengan langsung dengan Pantai Marunda Jakarta Utara juga tidak luput terkena imbasnya.

Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) yang mewadahi seluruh kelompok pedagang kuliner di lokasi tersebut, Agus Arief Setiawan mengatakan, Jembatan Cinta mulai dirintis pada tahun 2015 lalu atas inisiatif masyarakat setempat.

Jika sebelumnya masyarakat di sekitar lokasi Jembatan Cinta tidak memiliki pekerjaan atau pendapatannya rendah, dengan adanya ekowisata ini mereka memiliki pendapatan yang lumayan dengan menjadi pengelola wisata, penjaga retribusi, jasa antar perahu wisata, hingga wirausaha produk olahan khas kuliner laut.

“Tapi tidak bisa dipungkiri, adanya wabah pandemi Covid ini sangat berdampak kepada pendapatan warga karena tidak adanya pemasukan dari pengunjung,” ucapnya, Jum’at (20/08).

Untuk itu, dirinya  berharap, pandemi Covid-19 bisa cepat berlalu agar ekonomi warga di sekitar Jembatan Cinta dapat kembali menggeliat dan berjalan normal seperti biasa. Sebab, jika dibandingkan dengan sebelum adanya ekowisata Jembatan Cinta, pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat telah mengalami peningkatan sekitar 70 persen.

“Ya mudah-mudahan aja pandemi segera berakhir dan tempat-tempat wisata bisa kembali dibuka supaya pertumbuhan ekonomi warga tetap terjaga, berjalan normal, kembali bergeliat seperti biasa,” tuturnya.

Sebagaimana diketahui, Jembatan Cinta merupakan salah satu ekowisata yang berada di Kampung Paljaya Desa Segarajaya Kecamatan Tarumajaya. Di kawasan seluas 7,3 hektare ini, terdapat jembatan sepanjang 230 meter yang bisa dilintasi pengunjung, sambil menikmati keasrian hutan mangrove. Disana juga tersedia wisata air perahu keliling, perkampungan nelayan, gazebo tempat istirahat dan jajanan kuliner khas makanan laut.

Namun suasana pandemi yang terjadi belakangan ini membuat kawasan yang dijadikan Pusat Restorasi Pembelajaran Mangrove (PRPM) ini ditutup sementara untuk mencegah penyebaran Covid-19.  (BC)