Salah seorang petani di RT 02/07 Kp. Gempol, Desa Ridogalih, Kecamatan Cibarusah saat menghitung berat padi hasil panen mereka, Sabtu (13/07).
Salah seorang petani di RT 02/07 Kp. Gempol, Desa Ridogalih, Kecamatan Cibarusah saat menghitung berat padi hasil panen mereka, Sabtu (13/07).

Kekeringan di Cibarusah, Hasil Panen Padi Alami Penurunan

BERITACIKARANG.COM, CIBARUSAH – Para petani di Kecamatan Cibarusah mengeluhkan hasil panen padi yang tidak sesuai dengan harapan mereka. Padahal di momen panen seperti sekarang, harusnya mereka bisa mencicipi hasilnya dengan manis.

Namun, musim kemarau yang mengakibatkan minimanya pasokan air mengakibatkan hasil panen menjadi tidak optimal. Hal ini seperti yang dirasakan Ibad (44) salah seorang petani di RT 02/07 Kp. Gempol, Desa Ridogalih, Kecamatan Cibarusah.

Seperti petani lain di wilayahnya, Ibad mengaku tak bisa menggarap sawahnya secara optimal karna kesulitan memperoleh air. Akibatnya, tanaman padi menjadi kering dan hampa (kurang berisi).

“Ini karena faktor cuaca, nggak ada hujan. Udah hampir 3 bulan nggak ada hujan, dari pas puasa. Sekarang, kali juga sudah kering,” kata Ibad, Sabtu (13/07).

Ibad mengeluhkan hasil panen yang tidak sepadan dengan mahalnya biaya produksi seperti untuk menyewa traktor, membeli obat-obatan dengan hasil panen kali ini. “Sawah ada 8 petak, biasanya mah satu petak bisa satu kwintal. Jadi kalau panen total ada 7 sampai 8 kwintal tetapi sekarang palingan 5 kwintal karena padinya kurang berisi. Kalau dijual, harga 1 kwintalnya juga cuma Rp. 300 ribu sementara biaya untuk sewa traktor per petaknya aja Rp. 200 ribu,” kata dia.

Oleh karenanya, dia berharap kedepannya pemerintah dapat membantu mengantisipasi kekeringan bagi lahan pertanian di wilayahya dengan membuat embung atau membendung Kali Cicadas. “Satu-satunya solusinya ya bikin embung atau membendung kali supaya ada ketersediaan air bagi petani,” tuturnya.

Sementara itu Camat Cibarusah, Enop Can mengatakan saat ini terdapat kurang lebih 50 hektar lahan pertanian yang ada di wilayahnya mengalami kekeringan. Lahan pertanian itu tersebar di 3 desa, yakni Ridogalih, Ridomanah dan Sirnajati.

“Di kita sebagian besar sebetulnya sudah panen dan saat ini masih ada kurang lebih 50 hektar yang belum siap panen di ketiga desa tersebut,” kata Enop Can.

Jika kemarau terus berlangsung, Enop mengatakan puluhan hektar lahan pertanian di ketiga desa tersebut tidak menutup kemungkinan mengalami gagal panen atau fuso karena kekeringan.

“Kalau kemarau terus ya mereka bisa gagal panen,” ungkapnya.

Kepala Bidang Tanaman Pangan di Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, Nayu Kulsum mengatakan pemerintah telah mensosialisasikan agar petani untuk menahan diri agar tidak menanam padi di musim kemarau. Kendati terdapat kandungan air di dalam tanah, namun jumlahnya diyakini tidak akan mencukupi untuk kebutuhan selama menanam hingga panen.

Yang kami khawatirkan yakni dipaksa terus menanam akhirnya tidak jadi panen. Karena kecenderungan yang terjadi, karena melihat ada air jadi langsung ditanam tapi ternyata tidak mencukupi,” ucap dia.

Dinas Pertanian, lanjut Nayu, juga sudah membantu distribusi air untuk areal persawahan dengan memberikan bantuan pompa untuk para kelompok tani. “Bantuan yang kami berikan seperti pompa dan bentuk lainnya agar sawah teraliri air. Tapi itu pun untuk daerah yang ada sumber airnya. Sedangkan beberapa daerah yang tidak ada sumber airnya justru itu yang sulit, seperti halnya Cibarusah. Maka dari itu, kami imbau untuk menahan agar tidak dulu menanam,” ucap dia.

Untuk menghindari kerugian akibat fuso kekeringan, Nayu menyarankan agar petani memanen padinya lebih awal serta mengajak agar kedepannya para petani mengasuransikan tanaman padinya melalui program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).

Kepala Bidang Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) di Dinas Pekerjaan Umum dan Pentaan Ruang Kabupaten Bekasi, Nur Chaidir mengatakan di tahun 2019 pihaknya sudah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 20 miliar untuk membangun sejumlah embung dan sumur bor di wilayah Kabupataen Bekasi yang terdampak kekeringan.

Khusus di wilayah Cibarusah, Pemkab Bekasi akan membangun empat buah embung di tahun ini. “Embung sebenarnya disiapkan untuk menampung cadangan air bagi persawahan. Karena akibat kekeringan banyak sawah mengering. Sedangkan sumur bor untuk kebutuhan rumah tangga,” kata dia. (BC)

Baca Juga

Bupati Bekasi, Eka Supria Atmaja saat meninjau galian pipa pdam yang digunakan untuk hidran umum di di halaman Masjid Al Ikhlas, Kp. Poponcol, Desa Ridomanah, Kecamatan Cibarusah, Jumat (12/07) pagi | Foto : Humas Pemkab Bekasi

Penyertaan Modal Belum Digelontrokan, Bupati Klaim Tak Hambat Pemasangan Pipa di Cibarusah

BERITACIKARANG.COM, CIKARANG PUSAT –  Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bekasi dan Pemerintah Kabupaten Bekasi …

Bupati Bekasi, Eka Supria Atmaja saat memberikan bantuan air warga yang terdampak krisis air bersih di halaman Masjid Al Ikhlas, Kp. Poponcol, Desa Ridomanah, Kecamatan Cibarusah, Jumat (12/07) pagi

Ini Upaya Bupati Bekasi Atasi Krisis Air Bersih di Cibarusah

BERITACIKARANG.COM, CIBARUSAH  – Krisis air bersih yang kerap melanda warga di Kecamatan Cibarusah pada musim …